Menu
Showing posts with label Travel Guide. Show all posts
Showing posts with label Travel Guide. Show all posts



Gue menyebut diri gue sendiri sebagai seorang pendaki saat ini. Mau pendaki gadungan kek, pendaki abal-abal kek. Yang penting, yang selama ini gue pahami, orang yang sering, pernah, doyan, gemar, bisa dibilang jadi profesi, dan melakukan kegiatan mendaki gunung = pendaki.

Sama kayak orang yang jualan, senang jualan, kerjaannya jualan = penjual. Gak jauh beda sama orang yang gemar menulis, sering menulis, punya karya tulisan dimana-mana, jadi profesi pula = penulis. Sama juga kayak penyanyi, penari, pedangdut, pelajar, pelakon, penjara, pendulum, dan pe pe lainnya. *ngawur*

Yaudahlah ya, peduli syaitonirojim.

Nah, sebelumnya tentu saja gue pernah menjadi orang awam atau orang yang sama sekali gak ngerti dunia pendakian. Sebenernya sampe sekarang gue gak ngerti-ngerti amat sih. Gemar aja. Tapi, sebagai orang awam yang penasaran sama dunia pendakian pasti pernah punya pertanyaan yang kira-kira sama kayak apa yang ada di dalam otak gue dulu. Apalagi buat yang pengen banget mendaki tapi masih belum kebayang harus gimana.

Apa aja sih?

Yuk kita simak obrolan antara gue (yang belum jadi pendaki) sama gue (yang sekarang bisa dibilang so called pendaki abal-abal)!

Kan di gunung nih, kalo kebelet boker, terus bokernya gimana?
Boker ya jongkok, masa berdiri.

Ngeselin lu! Maksudnya kalau mau boker gimana?
Oh gitu, ya boker boker aja. Cari tempat sepi, cari semak-semak, ngeduk tanah, ngeden, plung, kubur lagi deh.

Kayak kucing gitu?
Persis!

Terus ceboknya gimana?
Ya dilap. Masa pantat lo digesek-gesekin ke batang pohon.

Iyuuwh. Maksudnya, ngelap pake apa? Daon?
Hari gini ada tisu basah, keleuus. Lap pake tisu basah. Eh, tapi gue menemukan metode yang lebih kece lagi, lain kali kalo manjat gunung, coba siapin satu botol aqua yang udah dibolongin tutupnya, dedikasikan buat nyemprot pantat lo sebelum dilap. Dijamin, lo kayak lagi boker di hotel-hotel mewah!

Oiya, jangan sekali-kali lap pake daon. Gatel!

Berarti lo udah pernah cebok pake daon dong? Hehehe
Ssst! Belicik!

Kalau kencing gimana?
Gak ada pertanyaan lain selain seputar selangkangan?

Jawab aja elah!
Ya gitu, sama aja kayak boker. Cari semak-semak, buka celana, cuuuurrrr, lap pake tisu basah. Kelar.

Kenapa sih gak boker atau kencing di sumber air aja? Di gunung biasanya ada kan?
GAK BOLEH! Alasannya simpel, sumber air itu digunakan cuma buat air minum dan air masak, mau digebukin banyak orang kalo nekat boker di sana? Bahkan kalau mau sikat gigi dan nekat mandi juga gak boleh pake odol atau sabun yang berbahan kimia. Mencemari air yang murni.

Oh gitu, tapi kalau airnya diambil trus buat cebok/sikat gigi/mandi di lain lokasi boleh?
Asal bukan di sumber air dan berakibat mencemari sumber air, boleh.

Terus, kalau ntar kecapean gimana? Ada yang gendong gak? Aku lemah...
Mendingan gak usah manjat gunung deh, gebuk nih!

Becanda, sensi amat sih kayak cewe PMS. Terus terus kalau makan gimana? Jangan dijawab pake tangan ya. Tabok nih.
Pake ta... *mingkem*
Makan sih tergantung sama yang manjat. Biasanya sih ada logistik kelompok yang berisi jajanan macem coklat, makanan ringan isi angin doang, roti-rotian, air mineral jangan lupa. Kalau makan berat biasanya sih mie instan.

Buat yang gak males masak dan niat banget mau pesta di gunung ya bisa bawa spageti, bisa bawa sop-sopan, bisa bawa chicken nugget, spicy wing, ina itu, sesuai selera. Tapi ati-ati jangan bawa ikan asin di gunung tertentu. Menurut cerita temen gue, doi pernah didatengin macan gara-gara masak ikan asin!

HAH? MACAN?
Iya, namanya juga hutan, gunung, tempat yang belum terjamah. Wajar kali masih banyak binatang liar.

HIH! Berarti gak aman dong? Ular gimana ular? Aku takut banget sama ular... :(
Gue juga takut ular, hih geli! Tapi ya, sepengalaman gue manjat beberapa gunung sih, alhamdulillah belum pernah ketemu sama ular dan amit-amit jangan sampe ketemu! *ketok ketok meja kayu*

Yang bilang naik gunung aman itu siapa? Lagian, gak ada tempat yang benar-benar aman di dunia ini kok. Semuanya relatif dan berdasarkan atas pembawaan diri lo sendiri. Asal gak neko-neko, biasanya aman-aman aja.

Oiya, naik gunung tuh harus bawa apa aja? Rempong gak?
Pasti rempong. Liburan kemana pun juga rempong. Apalagi naik gunung yang nantinya bakalan stay di hutan. Bawaan pribadi ya biasanya meliputi jaket tebel, baju ganti, alat mandi, alat bersolek diri, sleeping bag, sendal/sepatu gunung, tas gunung, obat-obatan pribadi, tisu kering, tisu basah, matras, makanan pribadi, alat makan, air minum, hape, kamera, slayer, senter gunung, jas hujan, aksesoris pribadi.

Kalau barang bawaan kelompok biasanya ya tenda, alat masak, alat makan, obat-obatan kelompok, fly sheet, kompor, gas, trangia, dll dkk.

Jadi mendingan gue pake sepatu apa sendal gunung?
Hmm... tergantung orangnya lagi sih. Dan juga tergantung kondisi gunung. Ada temen gue yang manjat pake sendal jepit biasa aja. Ada bahkan yang nyeker, eh, kalau temen gue itu sih emang kuncen gunung keknya. Tapi sepatu atau sendal gunung, kalau dari segi safety ya sepatu gunung banget. Bahkan beberapa gunung ada yang peraturannya keras banget, bahwa lo HARUS pake sepatu.

Tapi buat gue, sepatu gunung biasanya gue pake pas ketemu medan pasir kayak Gunung Semeru, Gunung Rinjani. Kalau gunung yang sekiranya pake sendal gunung oke aja, ya gak masyalah. Seringnya gue pake sendal gunung soalnya sepatu gunung gue kebesaran dan berat bener. Ntar deh bakal pake sepatu gunung terus kalau dah beli sepatu baru. *alasan* *jangan ditiru*

Peralatan naik gunung itu mahal-mahal ya? Gue kudu beli semua? Aku miskin kak~~
Aku juga. :( #curcol

Peralatan manjat emang mahal-mahal, tapi gak semuanya musti dibeli. Bisa pinjem sama temen lo yang dermawan, atau juga bisa sewa. Banyak kok sekarang peralatan manjat yang disewakan kayak tenda, matras, sleeping bag, bahkan ada yang nyewain carrier atau ransel gunung segala.

Kalau yang cere-cere semacam jaket dan sebagainya, bisa lah beli sendiri. Modal dikit aja.

Oiya, di gunung itu serem gak? Suka ada hantunya gak?
Nah ini, yang kayak gini ini nih yang bahaya. Namanya gunung ya pasti serem dan banyak hantunya. Gunung kan istilahnya rumah mereka, kita istilahnya 'main' ke rumah mereka. Jadi, ada baiknya ya ditepis pemikiran yang jelek-jelek gitu. Jalan aja dulu, manjat dulu, positif aja. Biasanya yang ketemu sama hal-hal mistis gitu ya kalo lagi gak apes, ya biasanya emang mereka 'bisa' (ngeliat).

HIH Seerem! Yang ini aja deh, bisa cari jodoh gak?
YA LO PIKIR MENDAKI GUNUNG ITU BIRO JODOH, BRO???!!

Tapi bisa aja sih kalau niat. Dimana ada kemauan di sana ada jalan. Eaaaaa.

Heehehe, okay itu aja dulu. Thanks. Bhay!
Bhay!



Sekiranya itulah yang paling sering ditanyain ke para pendaki (khususnya ke gue) sebelum manjat yang pertama. Mungkin ada yang bisa nambahin. Atau kalau mau nanya apa, feel free to ask me. Kalau bisa jawab, ya gue jawab, kalau gak bisa jawab, ntar gue call a friend atau ask audience. 

Ciao!

Happy Mountaineering!
0

Source: DISINI
Hae.

Udah pernah mendaki Gunung Slamet?

.....APAH???? BELUUUMM???!!!!

BABANG JUGA BELUM!!

.....ajakin dong.... :'(

Sejatinya babang ini berasal dari kampung yang mana menuju gunung Slamet tinggal selemparan tali kolor. Kalau pas dilempar kebetulan kolornya nyantel bus jurusan Cilacap-Purwokerto. Tapi, berhubung babang baru meletek masalah daki-mendakinya pas udah stay di Jakarta dan sekitarnya, walhasil mendaki Gunung Slamet masih jadi satu dari sekian daftar keinginan yang ada di wishlist-nya babang.

Tapi, ada satu orang temen babang yang udah pernah main-main di Gunung Slamet dan bahkan bikin catatan perjalanannya via Jalur Bambangan. Namanya Adriyano Louizzao. Doi juga nulis di blognya yang ini. Biar babang Jalan Pendaki sedikit berguna, babang ngadain yang namanya TukarBlog!

Apa itu TukarBlog?

TukarBlog adalah kondisi dimana salah satu postingan yang ada di Jalan Pendaki merupakan postingan lama/tulisan baru dari blogger lain yang rendah hati, tidak sombong, dan kece. Bisa jadi adalah tulisan kamu. Istilah kecenya, kontributor. Postingan di TukarBlog tentunya sudah dengan seijin si empunya yang punya tulisan, kalau tulisan tersebut adalah tulisan lama yang ada diblognya. Jadi, no plagiat disini ya~

Cuss langsung aja yak!

****



Jalur Pendakian Bambangan

Gunung Slamet terletak di Selatan kota Tegal atau utara kota purwakarta dan mempunyai ketinggian 3428 mdpl. Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi ke-2 di pulau jawa setelah gunung semeru. Gunung ini terkenal dengan hutannya yang masih sangat rimbun. Bahkan terkadang sinar mentari tidak mampu menembus pepohonan sehingga tanahnya menjadi lembab.

A. Transportasi
Semarang–Kendal–Batang–Pekalongan–Pemalang–Bantarbolang–Moga–Bambangan. Ketika pendaki mulai memasuki daerah pemalang maka akan terdapat sebuah jalan yang menuju ke arah purbalingga. Sebelum sampai di kota pemalang pendaki berbelok ke kiri ke arah bantar bolang. Setelah itu pendaki terus melaju ke arah moga. Di pertigaan moga jalan yang ke arah kiri adalah menuju purbalingga dan yang lurus ke arah guci. Pendaki akan mengambil jalan yang ke kiri dan menurun ke arah Bumiayu/Purbalingga. Setelah itu di pertengahan jalan antara moga dan purbalingga pendaki akan mengambil jalan berbelok ke kanan yang menanjak untuk sampai di desa bambangan. Jalan terbuat dari aspal hingga basecamp.

B. Informasi
1. Basecamp
Di jalur ini terdapat basecamp yang biasanya di gunakan pendaki untuk bermalam. Basecamp terletak Beberapa meter sebelum balai desa di sebelah kiri jalan.  

2. Registrasi
5 Ribu / Orang

3. Waktu Tempuh
8 – 9  jam perjalanan 

4. Mata air
Mata air hanya terdapat di Pos 5. Mata air di pos 5 adalah mata air permanen. 

C. Pendakian
Basecamp – Batas Vegetasi 
Pertama tama pendaki akan melewati jalan aspal hingga pintu gerbang pendakian. Setelah melewati pintu gerbang pendakian pendaki harus mengambil jalan yang berbelok ke kanan menyebrangi sungai. Ketika perjalanan ke puncak sungai harus terus berada di sebelah kiri. Setelah itu pendaki akan melewati kawasan ladang penduduk. Jalur di daerah ini cukup membingungkan. Sebaiknya pendaki berangkat pada waktu pagi hari ketika banyak orang yang sedang bekerja di ladang. Setelah itu pendaki akan sampai pada sebuah lapangan rumput. 


Di lapangan tersebut ada sebuah pertigaan. Ke kiri atau ke kanan sama saja karena jalur ini akan kembali menyatu sebelum melewati pos 1. Biasanya  pendaki mengambil jalan yang berbelok ke kanan karena jalan yang dilalui lebih mudah dan lebih jelas. Di tengah jalan pendaki akan melewati pos 1 yang masih terletak dikawasan ladang penduduk. Pos 1 kemungkinan sekarang sudah rusak. 

Beberapa menit kemudian pendaki akan sampai di hutan raya gunung slamet. Di perbatasan antara kawasan ladang dan kawasan hutan pendaki akan berjumpa dengan sebuah patok di sisi kiri jalan. Setelah itu pendaki akan memasuki hutan raya gunung slamet yang terkenal lebat. Perjalanan dari basecamp menuju batas vegetasi antara ladang dan hutan memakan waktu sekitar 60-90 menit.

Pintu masuk hutan – pos 5
Setelah memasuki hutan jalur yang dilalui akan sangat lembab karena cahaya matahari tak mampu menembus hutan gunung slamet yang lebat ini. Jalur yang dilalui hingga sampai pos 5 akan terus membentang di tengah tengah hutan gunung slamet. Setelah melewati pos 2 pendaki akan melewati 2 pohon besar yang terlihat seperti pintu raksasa. Konon katanya pintu tersebut adalah jalan menuju kerajaan ghaib gunung slamet. 

Setelah itu pendaki akan melewati pos 3 dan sampailah di pos 4 yang terletak di kanan jalan. Pos 4 bernama samarhantu yang berasal dari 2 suku kata yaitu samar dan hantu. Para pendaki biasanya menghindari untuk mendirikan tenda di tempat ini karena katanya tempat ini sangat angker dan banyak pendaki yang sering diganggu makhluk halus ketika bermalam di tempat ini.

Sekitar 15 menit dari samarhantu pendaki akan sampai di pos 5. Di pos 5 berbeda dengan pos pos sebelumnya. Di sini ada sebuah bangunan yang dapat digunakan pendaki untuk bermalam. Di depan pos 5 ada tanah yang cukup lapang untuk mendirikan tenda. Jika pendaki hendak mengambil air pendaki dapat melewati jalan menurun di sisi kiri jalur. Perjalanan dari Basecamp ke pos 5 memerlukan waktu sekitar 4 - 5 jam.


Pos 5 – Puncak
Untuk sampai di pos 6 pendaki memerlukan waktu sekitar 30 – 45 menit perjalanan. Jalur tidak lagi berada di tengah hutan slamet yang lebat.  Di pos 6 ada sebuah bangunan di kanan jalan yang dapat di gunakan pendaki untuk bermalam.

Ketika mulai beranjak dari pos 6 Jalur akan melewati rumput rumput hijau di sela sela pohon yang terbakar . Sekitar 30 – 45 menit perjalanan maka pendaki akan sampai di batas vegetasi antara hutan dan kawasan puncak gunung Slamet. Daerah ini sering di sebut plawangan yang artinya lawang atau pintu. Para pendaki mengartikan bahwa tempat ini adalah pintu menuju puncak gunung slamet. Di batas vegetasi pendaki akan berjumpa dengan sebuah in memoriam yang bertuliskan siti hajah.



Menuju puncak slamet jalan yang dilalui akan sangat terjal. Jalur yang akan dilalui pendaki mempunyai medan batu, pasir dan kerikil yang tentu saja sangat menguras tenaga. Di tempat ini tidak akan di jumpai tumbuhan karena tumbuhan tidak bisa lagi hidup di tempat yang terlalu tinggi. Setelah berjalan sekitar 90 – 120 menit maka pendaki akan sampai di puncak tertinggi gunung slamet. 

Sekitar 10 meter dari puncak pendaki akan menemui sebuah in memoriam yang bertuliskan surono. Surono adalah seorang pendaki yang tewas di puncak karena terjatuh dari jurang. Untuk menghormati kematianya maka namanya di jadikan nama puncak tertinggi slamet sehingga pendaki sering menyebutnya puncak surono. Perjalanan dari pos 5 ke puncak memakan waktu sekitar 3 – 4 jam



****

Nah, itu tadi info yang sangat bermanfaat buat gue pada khususnya dan semoga buat kamu-kamu semua juga pada umumnya. Udah kayak baca pidato belum gue?

Kalau mau kepo lebih lanjut tentang abang kece Adriyano Louizzao yang bahkan punya 16.000 member di Komunitas Pendaki Gunung, bisa follow di twitter @catatanpendaki atau mampir ke blognya di sini.

Oiya,

Tetep ya!

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

Happy Mountaineering! 

0

Author

authorMy Trip My Adventure menggambarkan petualangan dan eksplorasi keindahan alam Indonesia.
Learn More →