Menu
Showing posts with label Gunung. Show all posts
Showing posts with label Gunung. Show all posts

Penelitian terbaru menyimpulkan, es di puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest, kian menyusut dalam 50 tahun terakhir, kemungkinan besar akibat pemanasan global.

Penyusutan Gunung Everest 13 persen sejak 1960-an
Di dekat Taman Nasional Sagarmatha, gletser menyusut sebesar 13 persen. Data cuaca menunjukkan, kawasan Everest yang lebih luas kian menghangat dan sedikit turun salju sejak awal 1990-an, demikian temuan Sudeep Thakuri, kandidat doktor di Universitas Milan, Italia. Studi Thakuri dipublikasikan pada 13 Mei lalu, dalam pertemuan Persatuan Geofisika Amerika di Cancun, Meksiko. "Garis salju di taman nasional [Sagarmatha] telah bergeser sejauh 180 meter," kata Thakuri.
Meski Thakuri dan rekannya menduga pencairan es Everest dipicu oleh pemanasan global, Thakuri mewanti-wanti bahwa data yang mereka peroleh belum menunjukkan ada kaitan di antara keduanya.

Bagi para pendaki, temuan ini tidaklah mengejutkan, setidaknya menurut Conrad Anker, salah satu pendaki veteran yang sudah berkali-kali menjalani ekspedisi ke Everest. Dalam pengamatannya, garis es Everest sudah bergeser secara signifikan sejak pertama kali dia mendaki gunung itu. "Kondisinya sangat sulit," kata Anker. "Benar-benar sudah mencair." Anker menambahkan, dalam delapan tahun terakhir, Himalaya Tengah juga kering. "Apakah karena temperatur yang memanas, salju yang memang berkurang, atau kombinasi keduanya? Saya tidak tahu. Yang jelas, di atas sana benar-benar sudah meleleh."

Untuk merunut penyusutan es Everest selama puluhan tahun, Thakuri dan timnya menggunakan citra satelit dan peta topografis untuk merekonstruksi sejarah glasial, kemudian membuat analisis statistik. Data hidrometeorologi dari Observatorium Iklim Nepal dan Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal membantu mereka menyusun pola temperatur dan presipitasi di sepanjang kawasan yang lebih besar, termasuk Taman Nasional Sagarmatha seluas 1.148 kilometer persegi. Hasilnya, ada kenaikan temperatur lokal sebesar 0,6°C, dan penurunan presipitasi sebesar 100 milimeter selama musim dingin dan bulan-bulan pra-monsun sejak 1992.

Anker menyatakan, dirinya juga sudah melihat perubahan di kawasan Everest yang lebih besar. "Saat kami mendaki Cho Oyo—puncak tertinggi keenam di dunia—pada 2005, kami melakukan "panjat tebing", padahal teman baik saya Galen Rowell masih "memanjat es" pada 1985 atau 1986. Kenyataannya, itu memang batu di bawah es yang baru tersingkap," Anker menjelaskan. Pengamatan personal seperti yang dilakukan Anker didukung oleh bukti-bukti visual berupa foto dan video dari pendaki-pendaki lain.

0

Gunung Semeru
Legenda dan Sejarah Gunung Semeru di Tanah Jawa meyakini pemerintahan tertua di tanah Jawa berada di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Beberapa kali, Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebut kata-kata Semiru (Gunung Semeru).

Giling Wesi, nama pemerintahan di kaki Gunung Semeru ini didirikan oleh Tritresta, yang juga tercacat sebagai penguasa pertama Giling Wesi. Dalam naskah Daerah Jawa bagian Timur, Sumenep dan Bali, Nata Kusuma, pejabat panambahan Sumenap menyusun silsilah penguasa Hindu yang memerintah di Jawa. Silsilah tersebut cukup detail sejak tahun pertama Jawa dengan pemerintahan Giling Wesi hingga Majapahit.
Banyak cerita juga yang menyebutkan bahwa Gunung Semeru berasal dari Gunung Meru yang ada di India ( Jambudwipa ). Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang bersumber dari kitab kuno Tantu Pagelaran pada abad ke 15 keadaan Pulau Jawa tidak stabil, mengapung di lautan luas dan terombang - ambing oleh ombak yang begitu ganas. Melihat hal tersebut para Dewa memutuskan untuk memindahkan Gunung Meru yang ada di India dan memakukannya di Pulau Jawa.
Legenda Gunung Semeru

Dua Dewa yang memindahkan Gunung Semeru adalah Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura - kura raksasa, sedangkan Dewa Brahma berubah menjadi sesosok ular yang panjang dan besar.

Wisnu yang menjelma menjadi kura - kura raksasa bertugas menggendong Gunung Meru di punggungnya. Sementara itu untuk menjaga Gunung Meru tetap aman, Dewa Brahma yang sudah menjelma menjadi ular raksasa melilitkan tubuhnya di kura - kura raksasa.

Pada awalnya Para Dewa meletakkan Gunung Meru di atas bagian barat Pulau Jawa. Akan tetapi karena Gunung Meru terlalu berat, bagian ujung pulau Jawa sebelah timur menjadi terangkat. Dengan segera Dewa - Dewa itu memindahkan gunung itu ke bagian timur Pulau Jawa.

Dalam proses pemindahan inilah ada serpihan - serpihan Gunung Meru yang tercecer dan menjadi jajaran pegunungan di Pulau Jawa. Ketika puncak Meru dipindahkan ke timur Pulau Jawa, peristiwa yang sama kembali terjadi. Pulau Jawa tetap saja miring. Akhirnya para Dewa memutuskan untuk memenggal sebagian dari Gunung Meru dan kemudian ditempatkan di bagian barat laut Pulau Jawa.

Bagian utama dari Gunung Meru inilah yang sekarang disebut dengan Gunung Semeru dan penggalan yang ditempatkan di bagian barat laut membentuk Gunung Pawitra ( yang sekarang lebih akrab disebut dengan nama Gunung Pananggungan ).  
   
Menurut kosmologi Hindu - Jawa, Gunung Pawitra merupakan Puncak Kailaca yang dipindah ke Pulau Jawa.Puncak Kaliaca itu sendiri merupakan tempat persemayaman para Dewa - Dewa dalam cerita pewayangan Jawa.

Semeru juga disebutkan dalam Prasasti Pasrujambe, di Kabupaten Lumajang. “Daerah itu dulu merupakan padepokan dan tempat tinggal resi,” katanya. Lokasinya tepatnya di Dusun  Munggir. “Dulu ditempati seorang Brahmana,” katanya. Resi Pasopati, penyebar Hindu di Tanah Jawa disebut-sebut muksa di Gunung Semeru. Bagi masyarakat Bali, Gunung Semeru dipercaya sebagai Bapak Gunung Agung yang berada di Bali. Mereka juga percaya Gunung Semeru merupakan tempat tinggal para Dewa.

0

Gunung Everest vs Gunung Mauna Kea, Sebenarnya ini bukan Judul Aslinya, awalnya ini mengacu pada informasi tentang Everest Bukan Gunung Tertinggi di Dunia' Sesuai yang dikutip dari Arsipnya.

Kita bedah saja informasi Gunung Everest vs Gunung Mauna Kea ini agar kita tau bersama apakah benar bahwa Everest Bukan Gunung Tertinggi di Dunia.
Ketika mengukur puncak gunung dari ketinggian di atas permukaan laut, Gunung Everest sebagai atap dunia. Berdiri 8850 meter bertahta mahkota dari kumpulan 14 gunung dengan ketinggian setidaknya 8 ribu meter, dinamakan kelompok delapan ribu.

Berlokasi di perbatasan Nepal dan Tibet di pegunungan Himalaya, puncak tertinggi Everest pertama kali ditaklukkan pada tahun 1953 oleh pendaki gunung Edmund Hillary dan Tenzing Norgay selama ekspedisi Inggris, seperti dilansir oleh Yahoonews.

Meskipun nama asli Everest berasal dari bahasa Tibet Chomolangma, namun gunung tersebut diberikan nama resmi Inggris oleh Andrew Waugh pada tahun 1985.

Orang temuda yang menginjak puncak Everest adalah seorang anak berusia 15 tahun Ming Kipa, gadis Sherpa Nepal. Karena warga Nepal melarang pendaki lebih muda dari 16 tahun, maka Ming Kipa menundukkan gunung tersebut dari sisi jalur Tibet.

Rute standar puncak Everest dinilai oleh para pendaki lebih mudah daripada kumpulan gunung 8 ribu meter. Maka dari itu, Everest juga menyisakan ruang bagi titik turisme populer, meskipun pemerintah Nepal meminta semua pendaki mengurus izin terlebih dulu yang biasanya mencapai US$25 ribu (Rp234 juta) per orang.

Bagi siapapun yang tidak memiliki uang sejumlah itu untuk ekspedisi Everest, NASA telah menciptakan sebuah tur interaktif gunung yang disebut Temukan Gunung Everest dari Angkasa, menggunakan sebuah teknologi rekayasa gambar dari Earth Sciences and Image Analysis Laboratory di Johnson Space Center.
Sementara Mauna Kea yang merupakan gunung api tidak aktif di Hawaii merupakan gunung tertinggi di dunia jika dihitung dari dasarnya, yang ada di kedalaman Laut Pasifik.

Puncak Mauna Kea jika diukur dari permukaan laut setinggi 4205 meter tetapi jika memperhitungkan bagian di bawah permukaan laut yang tersembunyi ada sekitar 6 ribu meter lagi. Oleh karena itu, total ketinggian sebenarnya adalah 10210 meter, lebih tinggi dari Gunung Everest, menurut United States Geological Survey (USGS).

Di Hawaii, Mauna Kea berarti Gunung Putih dan puncak bersaljunya menarik penikmat ski dan peselancar salju. Lereng landainya menjadi area populer bagi aktivitas berburu, mendaki, bertamasya dan menikmati pemandangan hewan dan alam.

Dengan lokasi dekat ekuator membuat Mauna Kea termasuk dalam situs observasi astronomi terbaik. Tingkat kelembaban rendah dan langit yang cerah membuat kondisi cuaca dekat puncak gunung merupakan titik terbaik mengamati angkasa. Jarak gunung dari cahaya kota dan aturan pembatasan lampu juga membantu menyediakan pandangan sangat jelas bagi teleskop.

Mauna Kea saat ini menjadi rumah bagi 13 teleskop, termasuk Infrared Telescope Facility NASA, Caltech Submillimeter Observatory dan teleskop Subaru Jepang, sama halnya dengan teleskop Keck Interferometer, teleskop cermin-tunggal terbesar di dunia.

Kamera web Pusat Cuaca Mauna Kea juga memberikan izin pada penikmat pemandangan online menjadi saksi observasi ruang angkasa untuk beraksi

Arsip File : www.inilah.com
0

Pendaki Wanita Tertua Penakluk Gunung Everest yang berusia 73 Tahun berhasil mendaki Gunung Tertinggi di Dunia untuk yang kedua kalinya, dan Hal itu menjadikannya Wanita Tertua pertama yang bisa menaklukkan Gunung Everest. 10 Tahun yang lalu untuk pertama kalinya Wanita ini mendaki Gunung Everest dan kembali mendaki dan berhasil memecahkan Rekornya Sendiri dengan Mencapai Puncak Tertinggi Dunia 8.850 Meter dari Permukaan Laut.

Pendaki Wanita Tertua Penakluk Gunung Everest  berasal dari Jepang  yang bernama Tamae Watanabe, Wanita ini dinyatakan Sebagai Wanita Tertua yang berhasil mendaki Gunung Everets dalam kegiatan yang diselerenggakan oleh Guinness World Record pada Jumat di Ibu Kota Nepal, Kathmandu.

Tamae Watanabe mencapai puncak dengan ketinggian 8.850 meter dari permukaan laut bersama seorang mitra Jepang dan tiga pemandu Sherpa. Wanita tersebut menaklukkan puncak Everest dari sisi gunung itu di Tibet. Gunung Everest membentang di perbatasan Nipal-Tibet. Gunung tersebut telah didaki oleh 3.700 orang sejak warganegara Selandia Baru Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay Sherpa (Sherpa Tenzing) pertama kali mendakinya pada Tahun1953.

Dengan dinyatakannyanya Tamae Watanabe sebagai Pendaki Wanita Tertua Penakluk Gunung Everest maka saat tiba dikampung halamanya , Wanita Jepang ini langsung disambut dengan Hormat dan di berikan sebuah  penghargaan yang diserahkan langsung oleh wakil dari Craig Glenday Kepala Editor Guinness World Record Asian Trekking, sebuah organisasi pendakian yang bermarkas di Kathmandu.
Perempuan Jepang tersebut menaklukkan puncak Everest yang mendaki dari sisi gunung itu di Tibet. Seperti diketahui gunung Everest membentang di perbatasan Nipal-Tibet. Bukan hanya seorang Tamae Watanabe yang pernah mendaki Gunung Everst tetapi Gunung tersebut telah didaki oleh 3.700 orang sejak warganegara Selandia Baru Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay Sherpa (Sherpa Tenzing) pertama kali mendakinya pada 1953.

Daftar pendaki  yang juga ikut menjadi saksi keberhasilan Pendaki Wanita Tertua Penakluk Gunung Everest ini meliputi satu orang buta, seorang pria dengan anggota tubuh palsu, seorang anak lelaki Amerika yang berusia 13 tahun dan lelaki Nepal yang berusia 76 tahun.

Sebanyak 400 pendaki berada di beberapa kamp di kedua sisi gunung tersebut untuk menunggu cuaca membaik agar mereka bisa memulai upaya pendakian. Para pejabat Kementerian Pariwisata yang ikut dalam pemberian penghargaan Tamae Watanabe sebagai Pendaki Wanita Tertua Penakluk Gunung Everest  mengatakan bahwa bukan hanya beliau yang berhasil dalam jalur yang dialaluinya, tetapi sudah puluhan orang yang juga telah berhasil mendaki gunung itu melalu sisi Nepal.

Artikel Info Pecinta Alam.
0

Sherpa Mapatek UNM. (Foto : Bawakaraeng)
Tempat Pendakian Terbaik di Sulawesi menurut Tupai Climbers, yakni Gunung Bawakaraeng , selain Gunung ini menjadi Tempat Pendakian Terbaik di Sulawesi , juga merupakan salah satu Gunung Tertinggi di Sulawesi dari 3 Gunung Tertinggi lainya, yakni tingginya Mencapai 2830 Meter diatas Permukaan laut (Mdpl).

Gunung Bawakaraeng yang berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini selain memiliki puncak yang termaksud tertinggi di Sulawesi Selatan juga Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian Malino, dimana tempat ini adalah wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinja.

Upacara 17 Agustus. (Foto : Int)
Mengapa Gunung Bawakaraeng terdaftar sebagai Tempat Pendakian Terbaik di Sulawesi, hal ini disebabkan di puncak tertinggi Gunung Bawakaraeng terdapat daratan luas yang hampir menyerupai luas lapangan sepak bola yang selalu dijadikan tempat diadakannya Kegiatan-Kegiatan Kepemudaan dan Hari-hari Nasional lainya, dintaranya Upacara 17 Agustus, Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan , maupun hari-hari besar lainya. Selain itu dikaki Gunung Bawakaraeng juga terdapat sebuah Lembah yang di namakan Lembah Ramma, di lembah ini juga sering dikunjungi dan dijadikan tempat terbaik karena Lembah dipenuhi dengan pemadangan yang sejuk dan hijau sehingga membuat para pendaki tidak bosan untuk tinggal walau berhari-hari.
Haji Bawakaraeng. (Foto : Int)
Selain itu Gunung Bawakaraeng juga merupakan tempat pelaksaan adat istiadat kepercayaan Warga-Warga sekitar, yakni Puncak Gunung Bawakaraeng selalu dijadikan tempat beribadah (sembahyang) dan juga sholat Idul Adha oleh warga lingkungan sekitar. tetapi paling sering saat datangnya Musim Haji (Bulan Zulhijjah), dengan alasan dan tujuan untuk mendapatkan predikat Haji Bawakaraeng.
Tempat Pendakian Terbaik di Sulawesi ini juga terkenal dengan adanya Mitos -mitos di Gunung tersebut, Menurut salah satu Warga sekitar yang juga dijadikan Penjaga Gunung ( Pawang Gunung Bawakaraeng) oleh warga sekitar , yakni Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan. Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali.

Walapun Gunung Bawakaraeng menjadi Tempat Pendakian Terbaik di Sulawesi , tetapi Gunung ini juga bayak menelan Korban saat mendaki ditambah lagi Korban saat melakukan kegiatan Lintas Gunung Lompobattang ke gunung Bawakaraeng jatuh terperosok dari tebing maupun jatuh akbiat hembusan Angin Badai saat melintas, tetapi membuat para Petualang untuk Gentar, Menurut slah satu Pendaki 'Hidup dan Mati seseorang sudah di tentukan Oleh Sang Pencipta' dan Hal itu juga yang menambah semangat para pendaki untuk tetap aktif dan mendaki sebagai salah satu penghargaan bagi pendahulu dan Sahabat yang meninggal. Maka dari itu Gunung Bawakaraeng tetap saja masih banyak warga dan Para Pendaki Gunung senang tiasa melakukan akrifitas mendaki Tempat Pendakian Terbaik di Sulawesi ini. 
0

Gunung Semeru biasa disebut Mahameru yang berarti "Gunung Agung", adalah gunung tertinggi di yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Nama Semeru diambil dari gunung mistis kepercayaan Budha yaitu Meru atau Sumeru (tempat tinggal para dewa) dengan puncaknya Mahameru, 3,676 meter dari aras laut. Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. 

Gunung Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Kedudukan gunung ini terletak diantara wilayah pentadbiran Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan lokasi geografi antara 8°06' LS dan 120°55' BT. Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Di sebelah selatan, kubah ini memecahkan tepi kawah menyebabkan aliran lava ke bahagian selatan daerah Pasirian, Candiputro dan Lumajang

Letusan Gunung Semeru pertamakali (yang dicatat manusia) pada tahun 1818, dan sampai saat ini telah terjadi 55 erupsi besar, dan 10 erupsi diantaranya mengakibatkan kerusakan besar dan kematian. Sejak tahun 1967 sampai sekarang, erupsi kecil terjadi rata-rata tiap 20 menit di gunung ini. Pada tahun 1969, Soe Hok Gie, seorang aktivis Indonesia meninggal karena menghirup gas beracun gunung semeru.

Pendakian ke puncak Gunung Semeru memakan waktu selama empat hari pergi dan balik. Untuk mendaki gunung berkenaan pendaki mesti melalui kota Malang atau Lumajang. Dari terminal kota Malang pendaki boleh menaiki kenderaan awam menuju desa Tumpang dan disambung lagi dengan kenderaan jip atau lori sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang dengan kos Rp.13.000 seorang,- hingga Pos Ranu Pani.
Sebelumnya kita pergi ke Gubug klakah perlu memohon surat kebenaran, dengan perincian, kos surat kebenaran Rp.6.000,- untuk maksima 10 orang, kos masuk taman Rp.2.000 per orang dan insuran Rp.2.000 seorang.

Kemudian dengan menggunakan kenderaan tersebut, perjalanan dimulakan dari Tumpang menuju Ranu Pani, desa terakhir di kaki gunung Semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah tasik yaitu danau Ranu Pani (1 ha) dan danau Ranu Regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 daripada aras laut.

Setelah sampai di Gapura "selamat datang", lihat terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki, juga ada jalur pintas yang biasa digunakan oleh para pendaki tempatan, tetapi jalur ini sangat curam.

Jalur awal landai, menyusuri lereng bukit yang dipenuhi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100 meter. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting di atas kepala.

Setelah berjalan sekitar 5 km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Di sini terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pokok Pine. Kadang kala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak Semeru. Untuk menuju ke Ranu Kumbolo masih harus meneruskan perjalanan pada sekitar 4.5 km.

Di Ranu Kumbolo dapat mendirikan Camp. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan indah terutama di pagi hari dapat menyaksikan matahari terbit dicelah-celah bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung Belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2,400 m dengan luas 14 hektar.
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyediakan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kemudian mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah di belakang ke arah danau. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan Oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pine seperti di Eropah. Dari sebalik Gunung Kepolo kelihatan puncak Gunung Semeru menhemburkan asap wedus gembel.

Selanjutnya memasuki hutan Cemara di mana kadang dijumpai burung dan kijang. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.

Pos Kalimati berada pada ketinggian 2,700 m, disini dapat mendirikan khemah untuk berehat. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat unggun api.

Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat Tikus Gunung.

Untuk menuju Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melalui hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi keadaan tanahnya kurang stabil dan sering runtuh. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2,900 m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melalui bukit pasir yang sangat curam dan peroi. Semua barang yang dibawa sebaiknya ditinggalkan di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan awal pagi sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo.

Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.

Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi ribut dan tanah runtuh.

0

Puncak Gunung Bawakaraeng. (Foto : MT)


Gunung Bawakaraeng adalah salah Puncak Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, dengan pUncak ketinggian 2883 mdpl (diatas permukaan laut) dengan letak geografis pada 119° 56 ‘40″ BT ; 05°19′ 01″ LS ; dan berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dengan suhu minimum adalah sekitar 17°C hingga maksimum 25°C.

Gunung Bawakaraeng yang berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini selain memiliki puncak yang termaksud tertinngi di Sulawesi Selatan juga Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian Malino, dimana tempat ini adalah wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai.
Gunung Bawakaraeng memiliki hutan gunung yang didominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pengunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Tumbuhan yang banyak ditemui diantaranya Jenis pinus, anggrek, edelweis, paku-pakuan, pandan, cengkeh, santigi, rotan, lumut kerak dan lain sebagainya. Sedangkan untuk jenis fauna yang bisa ditemui antara lain, Anoa, babi hutan, burung pengisap madu, burung coklat paruh panjang dan lainnya.

Adat Istiadat - Haji Bawakaraeng. (Foto : Int)
Gunung Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. dimana jika bawakaraeng sedniri terbagi menjadi 2 kata yaitu Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan (Raja). jika diartikan secara luas Gunung bawakaraeng adalah sebagai Gunung Mulut Tuhan.Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali. selain itu Gunung bawakarang juga mempunyai sebutan lain sebutan / predikat lain bagi Gunung ini yakni Buttatoayya dari bahasa makassar, jika diartikan dalam kata seperti Butta berarti Tanah, Toa berarti Tua, dan Ayya menunjukkan kata sifat, jika diartikan secara menyeluruh dan secara harfiah Buttatoayya berarti Tanah yang memiliki sifat yang Tua, atau secara maknawiah Buttatoayya menegaskan sebagai suatu tempat yang tinggi yang dituakan. karena telah dipilih atau disepakati oleh para wali atau para karaeng atauy kaum suci ( Agama Islam) sebagai tempat untuk berdoa (bersembahyang) dan bertemu untuk membicarakan kebaikan.

Predikat Bawakaraeng sebagai Buttatoayya lalu didudukkan pada sebuah Gunung yang diberi nama Bawakaraeng. Predikat Buttatoayya lebih dipahami oleh pelaku tradisi budaya atau ritual mistis atau mereka yang sangat mendalami kedudukan Bawakaraeng. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.

Gunung Bawakaraeng juga terdaftar sebagai gunung yg paling sering dikunjungi baik itu oleh para warga setempat untuk sembahnyang pada bulan haji, maupun para pendaki Gunung seperti MAPALA dan PA (Pecinta Alam) lainya yang berada diSulawesi Selatan atau Adventure dari luar provinsi bahkan pulau. pada bulan – bulan di musim penghujan, kondisi cuaca di gunung ini menjadi sangat buruk dan sering terjadi badai di pegunungan lompobatang. Waktu kunjungan terbaik biasanya di anjurkan pada bulan Mei – September, karena pada bulan tersebut cuaca lumayan baik dan pemandangan alam akan begitu terlihat indah. Gunung Bawakaraeng hanya berjarak 75 km dari Kota Makassar dan menjadikan gunung favorites bagi pendaki di Kota Makassar dan sekitarnya.

Pegunungan Bawakaraeng. (Foto : Int)
Gunung Bawakaraeng sebenarnya bukanlah sebuah gunung menurut pakar peneliti Gunung Indonesia karena Gunung Bawakaraeng terletak atau bagian dari jajaran pegunungan Lompobattang serta salah satu puncak dan puncak tertinggi dari jajaran pegunungan Lompobattang. Beberapa puncak di jajaran pegunungan Lompobattang, antara lain : puncak Van Bonthain (umumnya disebut puncak Lompobattang), puncak Bulu Assuempolong, puncak Bulu Kaca, puncak Ko’bang, puncak Bulu Baria, puncak Bulu Porong, Puncak Bawakaraeng dan puncak Sarobaiyya. Secara geologis bermula dari terbentuknya formasi gunung api Lompobattang yang pecah (meletus) dan membentuk sejumlah kawah (saat ini lebih dikenal dengan Lembah Ramma, Lembahlowe dan Lembah Anjayya) lalu terjadinya proses pengangkatan (gunung Bawakaraeng) dan membentuk kesatuan jajaran pegunungan Lompobattang.

Bekas Longsoran. (Foto : Int)
Terbentuknya Gunung Bawakaraeng karena adanya Longsoran yang terjadi di kaki Bukit bawakaraeng Pada hari Jumat, tanggal 26 Maret 2004 sekitar pukul 14.00 WITA, tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong Musibah longsor ini menewaskan 30 warga dan menimbum ribuan areal sawah dan perkebunan. wilayah longsor tersebut mengakibatkan daerah aliran sungai (DAS) menjadi labil. Setiap musim hujan, lumpur di kaki Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke Bendungan Bilibili, bedungan terbesar di Sulawesi Selatan yang ada di Kabupaten Gowa, yang menjadi sumber air baku di Gowa dan Makassar. Lumpur juga mengalir masuk ke Sungai Jeneberang, sungai terbesar di Gowa yang membelah Sungguminasa ibukota Kabupaten Gowa serta membendung Kota Makassar di wilayah selatan.

Untuk menuju ke puncak Gunung Bawakaraeng terdapat beberapa jalur atau lokasi pemberangkatan awal seperti,

Jalur Menuju Puncak. (Foto : Int)
Jalur Lembanna
Lembanna terletak disebelah Utara Laut puncak Bawakaraeng. Daerah ini juga berada tepat dikaki Gunung Bawakaraeng dengan ketinggian 1.400m d.p.l, pada posisi koordinat 119°54′18″ BT dan 05°15′15″ LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Curah hujan rata-rata adalah 2.034mm/tahun dengan suhu udara minimum 15°C dan maksimum 20°C. umumnya penduduknya ber etnik Makassar atau penduduk asli, dan umumnya rumahnya bersedia digunakan untuk bermalam. Desa yg termasuk dalam kecamatan Tinggi Moncong, kabupaten Gowa, lebih dikenal dengan daerah Wisata Malino.Masyarakat desa Lembana ini sangat ramah dan bersahabat, banyak pendaki yang menginap gratis di rumah penduduk sebelum mendaki, Tiap akhir pekan tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh Pendaki yang ingin mendaki gunung Bawakaraeng ataupun orang yang hanya sekedar santai menikmati hari libur dikaki Gunung Bawakaraeng. Urutan pencapaian dari Makassar sebagai berikut:
Makassar–> Sungguminasa–> Malino–> Lembanna–> Puncak Gunung Bawakaraeng

Jika datang dari Makassar atau dari Luar pulau sulawesi, naik angkutan Kota menuju ke Terminal Gowa, atau bisa juga Turun di perempatan Sunggu Minasa, Jalan arah ke Malino. Dari sini, Naik Angkutan Pedesaan jurusan Malino, waktu tenpuh kurang lebih 2-3 jam perjalanan. Biasanya Sopir angkutan sudah hafal, kalau ada pendaki yg akan mendaki Gunung Bawakaraeng, Sopir Angkutan akan mengantar sampai ke Desa lembanna. Desa terakhir di kaki Gunung Bawakaraeng. Tariff per Orang Rp. 8000. para pendaki pada umumnya bermalam terlebih dahulu di Desa lembanna, yg punya ketinggian 1400 Mdpl, baru keesokan paginya pendakian dimulai. Atau bisa juga melakukan pendakian pada Malam hari.

Pendakian dimulai dari Desa Lembanna, medannya berupa perkebunan penduduk lalu mulai masuk pintu Hutan Pinus dan untuk mencapai Pos 1 dibutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.

Pos 1
Dari Pos 1 yg ketinggian mencapai 1650 mdpl, pendakian terus landai hingga mencapai Pos 2, diperlukan waktu tak lebih dari 1 jam perjalanan, disini tersedia mata air yg mengalir.

Pos 2
Perjalanan belum terlalu mendaki, masih landai dan mulai masuk vegetasi hutan khas sulawesi, waktu tempuh tak berbeda dengan dari Pos 1 ke Pos 2,

Pos 3
Di pos 3 juga tersedia mata air dan bisa mendirikan Tenda.

Pos 4
Pos 4 di tempuh dalam waktu lebih dari 1 Jam perjalanan dan perjalanan di lanjut hingga Pos 5, di pos 5 terdapat mata air, hanya saja lumayan jauh. Biasanya I Pos 5 digunakan untuk bermalam.

Pos 5
Dari Pos 5, perjalanan mulai mendaki dan sepanjang perjalanan akan melewati Pohon-pohon yg tumbang karena dari Pos 5 – 6, hutannya habis terbakar, kalau mendaki malam hari sebaiknya berhati-hati, karena disini biasanya pendaki sering tersasar, karena jalur tak begitu terlihat.

Pos 6
Ketika tiba di Pos 6, perjalanan masih melalu hutan yg lumayan lebat, perjalanan terus melandai dan mulai mendaki dan hutan mulai menghilang berganti vegetasi hutan yg berbeda dan setelah 2 jam perjalanan, akan tiba di Pos 7, yg punya ketinggian 2710 mdpl.

Pos 7
Di Pos 7 pemandangan sangat indah dan lumayan terbuka. Dipos 7 inilah yg sering terjadi badai.

Pos 8
Dari Pos 7 menuju Pos 8, jalur mulai naik turun, di sepanjang jalur ini terdapat 2 kuburan dan ada pula In-memoriam pendaki yg tewas, setelah melewati 2 bukit yg punya ketinggian rata-rata 2700 mdpl, jalur akan menurun dan Tiba di Pos 8, disini tersedia mata air, dan biasanya pendaki bermalam disini baru keesokan paginya menuju puncak Bawakaraeng. Pemandangan rumput savana dan puncak Bawakaraeng terlihat dari pos 8 ini, suhu pada malam hari antara 8-10 derajat.

Pos 9
Setelah melewati padang savana dan ada kebun edelweis maka akan Pos 9 di tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, di pos 9 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Pos 10
Pos 10 adalah Puncak Gunung Bawakaraeng. Untuk mencapai puncak bawakaraeng, tidak lah terlalu sulit, walaupun sedikit mendaki. Setelah menempuh kurang lebih ½ jam perjalanan, maka akan tiba di Puncak Bawakaraeng. Sebaiknya sebelum menuju puncak perhatian kondisi alam di puncak, terkadang angin bertiup lumayan kencang.

Rute alternative bisa juga menggunakan jalur lintas, yaitu melewati lembah Rama, dari Pos 1 ada percabangan jalan, ambil jalur kanan dan tembuh di Pos 8, jalur ini lumayan panjang dan melewati lembah yg lumayan luar, bisa melihat Air Terjun Taka Palu yg punya ketinggian 50 meter. Rute Alternative lintas LompoBatang, Pendakian bisa juga lintas ke Gunung LompoBatang melalui puncak Gunung Bawakaraeng dan Turun di Kabupaten Gowa, menurut informasi dibutukan waktu 3 hari perjalanan.

Jalur Tassoso
Dusun Tassoso’ terletak disebelah Timur Laut puncak Gunung Bawakaraeng. Daerah ini yang berda tepat dibawah kaki gunung ini dan berada pada ketinggian 1.320m d.p.l, pada posisi koordinat 119°58′38″ BT dan 05°58′55″ LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Curah hujan rata-rata adalah 78.7mm/tahun dengan suhu udara minimum 15°C dan maksimum 27°C. Urutan pencapaian dari Makassar sebagai berikut:
Makassar–> Sinjai Barat (Manipi)–> Gunung Perak (Tassoso)–> Puncak Gunung Bawakaraeng.
0


Gunung Bulusaraung merupakan salah satu Gunung yang terdapat di Sulawesi Selatan lokasinya berada diantara Kota Kabupaten Pangkep dan Kabupaten. Maros , tepatnya di Kecamatan Balocci Desa Tompobulu dengan ketinggian gunung mencapai 1.260 Mpdl. 

Gunung Bulusaraung ini juga termaksud salah satu Gunung di Sulawesi Selatan yang banyak dikunjungi baik itu oleh wisatawan luar Sulawesi Selatan maupun para Pendaki Gunung. Untuk menuju ke puncak gunung hanya perlu menempuh jarak sekitar 3-4 jam dari  pemberhentian terakhir atau biasanya disebut POS 0 didesa Tompobulu.
Gunung yang memiliki ketinggian 1.200 Mdpl ini walapun tidak termaksud Salah satu Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan Tetapi memiliki Jalur yang cukup menantang serta sedikit extrem apalagi saat musim hujan pastinya agak kesulitan untuk menempuh jalur sesuai waktu yang ditentukan apalgi buat Pendaki atau wisatawan yang mendaki ke Gunung Bulusaraung untuk pertama kalinya. Tetapi walapun jalurnya sedikit sulit tetapi ada bebera Pos / Tempat peristirahatan sejenak yang memiliki Pemandangan yang sangat Indah dan sayang untuk dilewatkan, sehingga dapat mengobati rasa lelah dalam perjalanan. selain itu di Gunung Bulusaraung juga terdapat beberapa species  Flora dan Fauna diantaranya Tumbuhan Rotan, Kemiri, Kelapa Serta Beberapa Tumbuhan warga yang sengaja ditanam di gunung tersebut, Kera hitam (maccaca maura)  Kupu – kupu (triodes holiptron),  Musang (macrogolidia masenbraiki). dll.

Pada pendakian Gunung Bulusaraung pendaki melewati 9 Pos peristrahat sementara, jarak dari Pos ke Pos hanya membutuhkan waktu 15-30 Menit.

Biasanya Para Pendaki jika ingin Menginap di Gunung ini biasa membuat BaseCamb di Pos 9 karena jarak dari Pos 9 / Pos terakhir sebelum Puncak hanya membutuhkan waktu 20 Menit untuk sampe kePuncak Gunung Bulusaraung dengan melalui Jalur sisi Gunung yang cukup Terjal dan Bebatuan Lepas,Puncak Gunung ditandai dengan  adanya Pemancar Radio Milik BTNBB dan tentunya Tugu atau biasanya disebut TREANGGULASI oleh Para Pendaki Gunung.
0


Gunung - Gunung di Sulawesi tentunya tidak asing lagi buat para Pendaki Gunung di Indonesia apalagi buat para Komunitas Pecinta Alam, Gunung - Gunung di Sulawesi bukan hanya dikenal akan  keindahan dan tingginya yang menjulang, karena lokasi yang sulit dijangkau dan Lokasi serta kondisi jalur yang begitu Ekstrem dibarengi dengan Mitos-Mitos Gunung tersebut yang membuat Para Pendaki Gunung  serta Komunitas Pecinta Alam tertarik untuk menaklukkanya.

Gunung - Gunung di Sulawesi ini hampir seluruhnya sudah menjadi tempat wisata bahkan tempat wajib untuk dikunjungi bagi para Pendaki Gunung terkhusunya para Pendaki Gunung Sulawesi. 
  
Gunung - Gunung di Sulawesi tersebut yakni :
  • Gunung Awu,berlokasi di Kecamatan Tabukan Utara dan Kecamatan Kendahe/Kendar bagian utara pulau Sangihe besar, kepulauan Sangihe Sulawesi Utara. Tinggi Gunung ini mencapai 1320 Mdpl,Gunung ini merupakan salah satu dari 129 Gunung Berapi yang berada dilintasan Api Nusantara,tepatnya di lempeng Filipina. 
  • Gunung Lakon, berlokasi diTomohon Sulawesi Utara, Ketinggian Gunung ini Mencapai 1689 Mdpl (Meter dari permukaan Laut).
 
  • Gunung Klabat/Kalawat , Merupakan Gunung yang tertinggi di Sulawesi Utara tepatnya di Minahasa Utara yang mencapai 2100 Mdpl, Gunung ini mempunyai nama lain oleh masyrakat sekitar yakni Gunuk Tamporok,
 
  • Gunung Mekongga , merupakan Gunung Tertinggi di Pegunungan Mekongga, terletak di Kaputen Kolaka Provinsi Sulawewsi Utara, Tinggi Mencapai 2.620 Mdpl.
  • Gunung Mahawu, terletak di Kecamatan Tomohon, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara dengan ketinggian 1.300 mdpl. Gunung ini juga memiliki nama lain oleh para masyrakat sekitar, yakin Gunung Mahawoe atau Roemengas.
 
  • Gunung Bawakaraeng,berada di wilayah Malino, Kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa dengan Ketinggian 2.705 Mdpl. Gunung Ini juga dijadikan sebagai tempat beribadah oleh masyrakat sekitar pada saat Musim Haji. 
 
  • Gunung Latimojong,adalah salah satu Gunung di Babupaten Enrekang, Sulawesi Selatan serta merupakan Gunung Tertinggi di Sulawesi Selatan dengan ketinggian Mencapai 3.600 Mdpl.
 
Inilah daftar beberapa Gunung - Gunung di Sulawesi, untuk lebih jelasanya mengenai Gunung - Gunung di Sulawesi ini silahkan Kunjungi  Arsip File : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gunung_di_Sulawesi.
0

Author

authorMy Trip My Adventure menggambarkan petualangan dan eksplorasi keindahan alam Indonesia.
Learn More →