Menu
Showing posts with label Tips and Trik. Show all posts
Showing posts with label Tips and Trik. Show all posts

seadanya, agar tak dibilang hoax

Kamu punya mimpi?
Pengen jadi kaya?
Pengen kebebasan finansial?

KERJA ANJIR! USAHA!

Kalau ikut MLM yang jadi kaya mah leader-leadernya doang. Kamu baru join mah bakal dapet ampas sama apesnya doang. Udah deh, get over with it. Get over with your ex, too. They're just not worth to think of. 

Masya Allah, kalau preman ada istilah senggol bacok, kalau gua kenapa jadi senggol curcol. Huhu.

Jadi, saking banyaknya oleh-oleh (cerita) dari Nepal, gua bingung mulai dari mana. Akhirnya malah bengong seminggu. Bengong kenapa gua udah di kosan lagi, kenapa udah ngantor lagi, kenapa udah ketemu Jakarta beserta polemiknya lagi, dan kenapa dua ikan komet kembar gua gak mati-mati juga. Padahal ditinggal dua minggu gak dikasi makan. Why oh why?!

Maka dari itu, gua memutuskan untuk memulai dari hal paling berguna yang bisa gua bagikan kepada kamu, yaitu, bagaimana caranya ke Nepal? 

Yang realistis aja ya, gak perlu pake ikut kuis banyak-banyakan likes di facebook/instagram. Atau ikutan blog competition tapi lawannya blogger ngehits semua, yang udah jelas pasti kalah. Atau nunggu jadi selebgram dulu trus diundang sama pemerintah Nepal. Keburu semua orang jadi selebgram juga gak bakal diundang-undang, wk.


Trus apa aja sih, caranya? Simak ya!

1. BELI TIKET JAKARTA - NEPAL (KATHMANDU) - PP. 
Cara pertama ini yang akan memaksa mau gak mau mengangkat pantat kamu dari kursi malas kantor atau zona nyaman yang membelenggu. Dengan membeli tiket pulang pergi Jakarta - Kathmandu, kamu gak akan bisa berkutik lagi. 

Like, i have to go, i have a golden ticket!

Sedikit tip dari gua, belilah tiket advance alias jauh-jauh hari. Dari pengalaman, gua beli di bulan Januari 2017 akhir buat terbang di bulan April 2017. Dengan menyesuaikan tanggal berangkat dan pergi, gua bisa mendapatkan harga tiket yang nayamul pisan, cuma sekitar Rp2.900.000, pulang pergi. Artinya, beli sekitar tiga bulanan sebelumnya, harusnya jauh lebih murah. Karena, saat temen-temen gua dadakan mau beli harga sekali jalan bisa nyampe 3x lipat dari harga tiket pp gua itu.

Tapi resikonya, semakin murah, semakin lama nunggu waktu transit di Kuala Lumpur. 

Kalau gua, waktu berangkat ke Kathmandu harus transit selama 8 jam di Kuala Lumpur, yang mana gua bisa keluar dulu numpang pipis di negara tetangga, terus balik bandara KLIA lagi. Balik dari Kathmandu juga semestinya transit 6 jam di KLIA, tapi karena sampenya subuh ya ngampar aja bobo cantik di korsi ruang tunggu. 

Etapi kalau kamu rich kid, bisa numpang nunggu di Executive Lounge KLIA seharga 150-500RM tergantung durasi nunggunya. Kalau gua sih sayang, mending duitnya buat beli hape baru atau beramal, lumayan dapat pahala. Wk. 

Oiya, gua terbang dengan Malindo Air which is sodaranya Lion Air, yang ternyata punya pelayanan jauh banget dari Lion Air. Kita dikasi makan gratis dari Kuala Lumpur ke Kathmandu vice versa, since perjalanan di udara mencapai 4.5 jam. Dari Jakarta - Kuala Lumpur dapet snack gemes, lumayan buat ganjel selama 2 jam.


2. PERSIAPKAN CUTI
Whatever it takes, you should get your day off sesuai dengan jadwal keberangkatan dan pulang dari tiket pesawat yang udah dibeli. Maka dari itu, sebaiknya mintalah cuti dari jauh-jauh hari. Bilang aja selewatan ke boss kalau kamu mau pergi ke Nepal, entah buat naik gunung atau gak, kamu perlu berapa hari cuti. Meski masih belum bisa mastiin tanggalnya, begitu dapet tanggalnya, langsung deh minta form cuti.

Eh, ini hanya berlaku buat yang kerja kantoran ya. Kalau buat pengusaha atau mahasiswa atau soon-to-be-pengangguran banyak duit mah, gak perlu beginian.

Spoiler:
Pendakian Annapurna lewat jalur gua (akan gua ceritakan di postingan selanjutnya) bisa makan waktu 10 hari (kalau agak santai) start dari Kathmandu, plus 2 hari tambahan buat PP Jakarta - Nepal. Kalau pendakian Annapurna pada umumnya, memerlukan waktu 5-7 hari saja, di luar tambahan hari perjalanan Jakarta - Nepal.

3. NABUNG
Kamu udah dapat tiket murah Jakarta - Nepal PP? Cuti juga udah aman?

Nah, sekarang tinggal bayarnya. Kalau punya duit, tinggal cus bayar. Kalau gak punya, pakai dulu Kartu Kredit buat bayar, bisa cicilan juga deh kayaknya. Kalau gak punya juga, bisa pinjem temen dulu, tapi inget bayar. Intinya, amankan dulu itu tiket pp.

Setelah itu, menabunglah. Karena uang tidak tiba-tiba jatuh dari langit seperti salju. Karena pergi ke luar negeri itu gak sesepele traveling ke Cikole atau Cimahi. You need money. Period. Bahkan ke Cimahi pun butuh uang sih. Nah, here is the list berapa rupiah yang kamu butuhkan:

Need*
Rp
$/Rs/Myr
Ket*
Taksi/uber ke bandara Soetta PP
Rp400.000

Masing2 200rb-an
Jajan/makan pas transit di KL
Rp200.000
60Myr
1Myr*Rp3500
Visa On Arrival Nepal
Rp340.000
25US$
1US$*Rp13500
Taksi bandara Tribhuvan ke Thamel (hotel) PP
Rp270.000
2000Rs
100Rs*Rp13500
Hotel Thamel
Rp135.000
1000Rs
Booking dulu di booking.com, bisa
cari yang termurah, tanpa bayar dulu
Tourist Bus Kathmandu-Pokhara PP
Rp216.000
1600Rs
Harga dari 600-1500Rs sekali jalan, kalau bis lokal lebih murah tapi sumpek
Hotel Pokhara 2 malam (sebelum dan setelah mendaki)
Rp270.000
2000Rs
Booking dulu di booking.com, bisa
cari yang termurah
TIMS dan ACAP
Rp540.000
4000Rs
Permit mendaki, masing-masing 2000Rs, akan gua jelasin di postingan berikutnya
Taksi Pokhara – Naya Pul PP
Rp675.000
50US$
Atau bisa naik bis local dan jeep, harga dimulai dari 300-1000Rs
Konsumsi per hari di gunung
*Dikali 10 hari
Rp2.050.000
15.000Rs
Bisa lebih irit atau lebih boros, terserah kamu, sehari manusia normal rata-rata menghabiskan 1500Rs
TOTAL
Rp5.096.000

*Belum termasuk jajan, oleh-oleh, dan lain-lain yang bisa disesuaikan.
*Termasuk pengeluaran yang hedon, karena gua itung maksimalnya

Nah, tabel di atas memang belum paripurna, karena hanya hitungan kasar dengan harga maksimal. Jadi, masih bisa jauh lebih murah dari budget itu. Kalau budget gua pribadi, nanti akan ada di postingan terkhusus itinerary.

Buat gambaran, dengan total uang yang dibutuhkan di tabel dan tiket pesawat PP, serta dana mendesak dan lain-lain, anggaplah kamu butuh Rp10 juta, biar lega. Nah, saatnya menabung!

Kalau waktumu masih panjang, misal setahunan, coba pakai tabungan berjangka. It works, at least for me. Kalau waktumu mepet, misal cuma 3 bulan kayak gua, coba cari pekerjaan sampingan, sering-sering puasa, kurangin jajan dan nongkrong, niscaya tercapai budget yang diinginkan.

Head to toe by: Consina
4. PERSIAPKAN PERALATAN
Karena gua mau mendaki gunung (baca: Annapurna), so tentu saja yang gua butuhkan adalah peralatan mendaki gunung yang memadai. Dalam artian, cukup buat selama gua hidup di sana. Gak berlebihan, gak kurang. 

Because you know, naik gunung lebih dari 5 hari dengan kondisi alam yang berbeda dari Indonesia artinya bawa barang bawaan kebanyakan ya PR banget, bawa barang yang kurang dan salah, ya nyusahin diri sendiri.

Gak selengkap peralatan mendaki gunung yang pernah gua tulis, paling gak, ini barang wajib yang harus dibawa:
+ Sleeping bag: usahakan yang bisa di bawah 0 derajat atau minimal 5 derajat. Consina seri extreme comfort lite nayamul lho! Tapi geda pisan!
+ Sepatu trekking: gunakan yang nyaman di kaki. Ingat, yang nyaman. Karena jalan lebih dari 5 hari pakai sepatu gak nyaman itu neraka dunia.
+ Baju dan celana: secukupnya aja, kalau bisa beberapa dry fit. Jadi pakai baju sama setiap hari gak masalah, dan punya baju kering khusus buat tidur. Serta cari celana pendek/panjang yang dry-fit dan waterproof. Berguna!
+ Jaket: down jacket atau jaket wind and waterproof. Kalau bisa keduanya. Satu buat pemakaian saat hujan badai dan salju, satu buat pemakaian saat tidur.
+ Sendal jepit: ini penting, kalau lagi break atau di kota, jangan sepatuan
+ Sarung tangan: cari yang bisa sampai minus derajat, asli, gua pakai yang bisa minus aja beku ini tangan
+ Trekking pole: kebanyakan sih bawa dua, bisa juga beli di Pokhara, tapi satu juga enaf.
+ Kamera: plis deh hari gini, gak ada foto dibilang hoax, foto kebagusan ditanya, ini foto di studio mana? Kok bagus? *nenggak abotil
+ Botol minum: PENTING! I'll tell you next post.
+ Accessory: Buff, kupluk, powerbank, converter colokan (mostly colokan listrik di Nepal berkaki 3), tas kecil cadangan, dll dkk.
+ Keril: ya masa bawa-bawa barang pake kantong kresek

Selengkapnya bakal gua tulis di itinerary aja ya. Ini biar gambaran kasar aja, mostly udah semua sih gua sebutkan. Anyway, usahakan semua benda-benda tadi bisa masuk ke keril kecil ukuran maksimal 50 L seperti Consina Stronghold, karena percayalah, kalau kamu gak pake porter lokal, ukuran segini aja udah bisa bikin pundak kamu terasa patah-patah.

5. PERSIAPKAN FISIK DAN MENTAL
Gua, pada umumnya, selalu mempersiapkan fisik saat hendak mendaki gunung. Semakin gede, seram, tinggi, jauh, semakin lama durasi gua prepare. Dulu waktu mampir ke Gunung Latimojong, Sulawesi aja gua lari gila-gilaan, work out, selama kurang lebih dua bulan.

Apalagi mendaki Annapurna begini, sejak tiket udah di tangan gua langsung mendadak rajin bangun pagi. Lari minimal setengah jam per hari, work out minimal sejam per hari, sampai menghajar multivitamin. Demi badan yang setrong dan fit saat hari H tiba. 

Tapi... jangan kebablasan juga, soalnya gua malah justru jatuh sakit di tengah perjuangan gua. Kecapean. Huft.

Soal mental, jujur aja, Nepal adalah negara keempat yang gua datangin setelah Malaysia, Singapura, Thailand. So, gua merasa agak grogi. Selain itu, negara ini pun turun salju. Cuma di gunungnya deng, tapi udah pasti dinginnya jauh lebih dingin dari Bandung. Gua bener-bener mempersiapkan semampu gua dan overcome my fear.

So, you have to do it too.



6. PELAJARI BERBAGAI HAL TENTANG NEPAL
Nepal punya hal-hal istimewa yang berbeda dari negara lain. Salah satunya, NPR/Rs alias Nepal Rupee (mata uang Nepal), ternyata gak bisa ditukarkan di Indonesia. Gak available. Di negara mana pun. Hanya ada di Nepal. 

Artinya, maneh harus nuker uang ke USD dulu, baru nuker NPR nanti saat tiba di bandara Tribhuvan, Kathmandu. Mending nuker NPR di bandara Tribhuvan seadanya, lalu nuker di money changer Prabhu bank or else, rate biasanya gak terlalu jauh, tapi lebih dihargai.

Lalu, Nepal punya wc jongkok berbentuk kotak. Orang Indonesia mirip orang Nepal, jadi kamu bakal sering disangka orang lokal. Hati-hati scam, meski mereka udah punya fixed rate buat taxi dan semacamnya. Bisa jadi kamu gak akan doyan makanan Nepal yang mirip makanan India, dan sebagainya.

Pelajari. Ada google yang bisa menjawab semua pertanyaan kecuali soal dimana jodohmu. You can just learn. 

***

Nah, itu semua yang bisa gua bagi kepadamu soal seluk beluk menuju Nepal, khususnya buat yang mau mendaki Annapurna. Tapi kalau kamu cuma ingin main-main doang ke Pokhara dan Kathmandu, sama aja sih caranya. Bedanya hanya di persiapan fisik dan peralatan aja.

Anyway. Ini baru pembukaan dari series Pendakian Annapurna. So, stay tune gengs!

Ps:
Terima kasih buat kamu semua yang selalu setia menanti tulisan baru di blog #Jalanpendaki ini. Luv
0


Kenapa yang nyaman? 

Karena benar aja gak cukup. Benar aja bisa disalah-salahin kan? #eh

Gak deng. 

Kalau yang benar, kamu bisa googling pake keyword "cara packing carrier yang benar" and you'll find berjuta tulisan soal itu. Kalau soal yang nyaman, kayaknya baru gua. Emang gua anaknya bikin nyaman sih. Cie gitu.

Karena kenyamanan itu penting banget!

Coba, kalau kamu punya pacar tapi gak dibikin nyaman, pasti bawaannya pengen putus melulu kan? 

Tapi kalau udah kamu dibikin nyaman dan diperjuangin sebegitunya tapi tetep minta putus, sih.... elunya aja selingkuh. Bye. 

Lah.

Intinya gitu, packing yang nyaman adalah sebuah kunci pendakian yang hakiki, agar tetap semangat selama di perjalanan. 

Packing carrier gak kayak sembarang taro nesting di paling atas, karena kamu gak mendadak masak pas lagi ada ide di tengah gunung. Atau malah naro sleeping bag di paling atas, karena lo gak tiba-tiba pengen tidur di tengah jalur pendakian disebabkan oleh jalur yang bikin badmood.

Okay, daripada baper yang gak-gak, mendingan langsung aja yuk gua beberin gimana cara packing keril yang nyaman!

PAKE MATRAS (atau gak)
Ini hal pertama yang paling basic ya gaes, menentukan gimana kelanjutan packing carrier. Misal kamu memutuskan buat pake matras, masukin dulu matrasnya, buat melingkar di dalam keril, baru masukin barang-barang.

(+) Keuntungannya pake matras di dalam, keril bentuknya jadi lebih cantik dan lonjong sempurna. Teguh dan tegak lurus. Plus kalo lagi ujan jadi semacam ada pelindung tambahan jadi air gak langsung meresap ke sisi dalam keril. Ultimately, fotoable.

(-) Kerugiannya, hampir 1/4 space di keril jadi kebuang sia-sia. Asli, semacam udah gak bisa naro apa-apa lagi aja gitu saking full-nya. Trus jadi mager ngambil matras kalau misal mau ngampar istirahat agak lamaan di jalur.

Kalau gak pake matras yaudah, kita lanjut ke step berikutnya.


Ps: Ini khusus buat matras tentara item bulet yang digulung-gulung itu yes. Kayak gambar di atas pas gua lagi diajak ngobrol on-air di TVRI tadi pagi. Xixixi.

SLEEPING BAG 
You need to know that, sleeping bag adalah barang paling magerin buat dibawa, TAPI WAJIB. You need to take a note about it. Suka gak suka, sleeping bag wajib dibawa. Meski nyebelin dan magerin. Biasanya, emang ukuran sleeping bag, terutama merk bajakan itu tebelnya naujubillah. Apalagi kalo yang pake bahan dacron. Amit-amit tebelnya.

Tapi apa boleh buat yekan, kalau mau beli SB yang tipis-anget mumpuni harga selangit, jadi ya terima kenyataan beli SB murah meriah meski tebel.

Nah, jadi ditaro mana?

Karena sejatinya sleeping bag hanya dipakai saat tidur, seperti namanya, kantung tidur, maka letakkanlah di bagian paling bawah keril. Niscaya aman terkendali. Kayak yang gua bilang tadi, kamu gak akan tiba-tiba ambil SB trus boboan di jalur kan?

Kecuali, keril kamu kayak Consina Stronghold yang gua bawa di foto atas, kamu bisa seenaknya ambil itu sleeping bag kapan aja karena ada kompartemennya sendiri.

Ps:
Pastikan sebelum masuk ke keril, plastikin dulu SB-nya.

BUNTELAN BAJU
Baju juga merupakan barang WAJIB tapi nyebelin. Secara, kita gak mungkin naik gunung pake karung goni, yekan? Hellaw, it's 2017! 

Nyebelin karena kalau kita para ig-ers yang harus eksis, pasti mau bawa baju yang banyak dengan beragam warna dan genre biar bisa kece di foto. Etapi gak usah mesti eksis ding, kalau super-rempong kayak gua yang musti ganti baju buat tidur, baju berangkat dan pulang harus beda, ya pasti bakal bawa banyakan. Maklumin, namanya juga pendaki virgo xixixi. 

Nah, kalau gua, selain digulung-gulung, biasanya gua masukin baju dan aksesori lainnya di jaring-jaring tempat baju (biasanya gua dapet dari bungkus sendal gunung), lalu dimasukin plastik, baru deh ditaro di atas sleeping bag atau di sampingnya. Sumpelin aja. Because yea, kamu gak akan tiba-tiba ganti baju. Ribet. Tapi aku cepet keringetan dan risih pake baju basah kak?

Jawabannya adalah pakailah baju dry-fit. Ya kamu gak akan sejam sekali ganti baju cuma gara-gara basah kan? Yang ada, basah keringet semua nanti bajunya.

Oh oh, gua ada ide, bisa aja itu buntelan baju ditaro di tempat sleeping bag kalau keril kamu berkompartemen kayak Consina tadi, biar gampang diambil-ambil!



BARANG BERAT ADA DIMANA?
Nah ini sebenarnya lumayan agak bikin pusing yah, ada yang bilang di bagian paling belakang keril alias balik punggung, ada yang bilang di tengah-tengah, ada yang bilang di paling bawah. Tapi, sebenernya perlu di define dulu sih, barang beratnya itu kayak apa. Buat gua, barang berat waktu naik gunung itu:
1. Nesting, beserta tempat minum, sendok garpu, kompor dan teman-temannya.
2. Air dan logistik pendukung macam beras sekilo, sop-sopan, dan daging.
3. Frame tenda dan bungkusan tendanya sekalian.

Nah, dengan pembagian gitu, seharusnya penyelesaiannya bisa gini:
a. Nesting dan teman-temannya tadi, taro di paling bawah setelah sleeping bag dan buntelan baju. Jadi urutannya sleeping bag dulu, buntelan baju, baru nesting. Atau sleeping bag + buntelan baju, baru nesting.
b. Setelah nesting, tarolah botol-botol air (yang gak diminum selama di perjalanan). Atau bisa jadi air di samping nesting. Biar enjoy dan gak berat sebelah, nesting di tengah air di samping kanan dan kirinya. Atau kalau make water-bladder (tempat air beselang), bisa kamu taro di kantong dalam keril, biasanya tersedia di keril-keril berlogo H20. Tapi minusnya, water-bladder rawan bocor, malah bisa bikin banjir isi keril padahal gak hujan. Rasanya tuh kayak gak salah tapi disalah-salahin. Emang dianya aja lagi nakal jadi cari-cari alesan mulu! Lah.
c. Frame tenda biasanya sih ditaro luar keril, atau kalau terpaksa masuk ya di samping kanan dan kiri sisi dalam keril aja biar jadi kerangka keril yang kokoh. Kalau bungkusan tendanya, bisa ditaro di atas nesting atau justru di paling bawah since bakalan cuma dipake pas udah nemu tempat berkemah. Yang biasanya jadi tujuan akhir perjalanan sehingga bisa bongkar seisi keril dengan halal.

Huft capek juga ya, nulisnya banyak.

JAKET ANTI AIR (DAN JAS HUJAN)
Jangan sampai kelupaan. Jaket water dan windproof ini penting banget. Jas hujan juga penting, meskipun gua pribadi setelah merasakan nikmat dan simpelnya bawa payung lipet ke gunung itu jadi mager pisan euy bawa jas ujan.

Tapi, to be short, jaket anti air ini maupun jas hujan bisa digunakan sewaktu-waktu cuaca berubah. Misal lagi panas-panasnya eh mendadak hujan, atau lagi hangat-hangatnya eh mendadak cari masalah mulu biar putus. Huft. Lelah. So, intinya adalah agar barang-barang ini bisa mudah diambil kapan aja, harus ditaro di tumpukan tertinggi barang-barang tadi. Atau kalau jas ujannya plastik cebanan dari minimarket, ya bisa ditaro di kepala keril bersama printilan lainnya.

KAMERA?
Oh yeah, kamera adalah hal wajib yang musti dibawa kini. Kecuali emang mager moto-moto atau kamu hire fotografer pendakian profesional (anyway, kalau mau hire gua juga boleh, dijamin foto kalian biasa aja hasilnya).

Nah, buat kamera aksi-bertongsis, bisalah ditaro sembarang kanan/kiri tapi berdiri persis kayak frame tenda perlakuannya. Kalau kamera biasa (pastikan ada tax kamera tersendiri), taruhlah persis di bawah jas hujan/jaket anti air. Jadi perlindungannya dobel.

But, if you bakal motret sepanjang jalan, ada baiknya bawa sling-bag (tas selempang) khusus kamera yang ditaro di luar keril jadi kamera bisa diambil kapan aja.

PRINTILAN & LOGISTIK (tambahan)
Jenis printilan amat sangat banyak, seperti P3K yang berisi: plester, koyo, obat merah, obat sakit kepala, obat halu, dan alkohol ini bisa ditaro di box khusus P3K terus ditaro di samping kamera atau under jas ujan. Kalau misal mau disebar juga bisa ditaro di kepala keril.

Headlamp maupun senter, dompet, slayer, baterai tambahan, bisa ditaro di kepala keril. Power bank dan charger hape maupun kamera bisa ditaro di box khusus dan diletakkan di bawah jas ujan. Atau di sling bag luar keril.

Kalau logistik tambahan kayak mie instan, buah, ciki, even minuman kayak UC-1000 maupun Hydrococo, bisa diselipin dimana suka, sebar aja. Kalau matras di luar keril, bakal enak banget nyebarnya, tapi kalo di dalam keril, biasanya space penyebaran logistik agak sedikit. Kalau semacam madu dan cokelat, sebaiknya taro di kepala keril. Atau disakuin aja, bakal dicemilin kok sepanjang perjalanan. Percaya deh!


Kalau menerapkan langkah-langkah cara packing carrier di atas, niscaya kamu akan merasa nyaman dan diberikan kenyamanan lahir batin.

Tapi ingat, kenyamanan masing-masing orang bisa berbeda, so, karena ini sifatnya cuma saran, jangan kaku-kaku amat, kamu bisa mix and match dengan cara-cara lain di luar sana. Tentu aja ada yang lebih expert ketimbang gua yang bagai sisaan martabak. Mau diambil tapi malu, gak diambil tapi sayang. Akhirnya malah kebuang. :(

Ada yang lain gasi?

Kayaknya gak yah?

Tapi namanya manusia kan yah, udah berjuang kayak apa juga selalu ada yang kurang dan ada yang lebih baik. Katanya sih rumput tetangga selalu lebih hijau. Padahal bisa aja rumputnya sintesis yekan.

Duh kelepasan curcol mulu.

Etapi bener lho, kalau misal ada yang kurang, silakan kamu tambahin di kolom komentar ya. Karena berbagi tak pernah bikin kamu merugi.

Luv.

Ada hutan di Bekasi,
cukup sekian dan terima kasi. 

Krik. Bye!
0




Jadi, sebenernya....

Gua masih belum pantes sih ngasih saran yang beginian since gunung yang udah pernah gua daki juga belum sebanyak para pendaki gunung profesional dan fenomenal.

Tapi, semenjak gua main ke Bali, gua jadi ngitung-ngitung, ternyata mayan juga yah. Selain itu, banyak pertanyaan yang masuk baik dari instagram gua di @acentris maupun @jalanpendaki dan di LINE Official @jalanpendaki mengenai gunung apa aja sih bang yang cocok buat pemula?

Nah, di sini gua mau share, gunung apa aja sih yang pas buat kamu yang pengen banget rasain naik gunung tapi masih tackut capek, tackut setan, maupun tackut patah hati.

Biar objektif, gunungnya yang udah pernah gua sambangin tentunya. Kalau belum, ntar ngarang banget dong.

Karena pulau Jawa itu membentar dari Barat ke Timur (or vice versa), biar adil gua akan share dari masing-masing daerah minimal satu. Langsung aja, ini dia, 5 Gunung untuk pemula di Pulau Jawa:

Dimulai dari JAWA BARAT, kita punya *drum roll* *kayang*


1. Gunung Papandayan

Gunung Papandayan lumayan sering gua kunjungi dan ulas di sini. Kamu bisa baca ulang di Gunung Papandayan: A Walk To Remember. Bagi aing, Gunung Papandayan emang pas banget buat pemula. Selain aksesnya mudah, kini bahkan tersedia WC kapsul yang bisa dipake siapa aja asal mau ngantri panjang kayak antri diskonan Jco Donut.

Dari segi medan, gak terlalu berat. Bisa ditempuh dalam waktu 2 hingga 4 jam dari Camp David menuju Pondok Salada. Apes-apesnya ya 6 jam lah, itu juga udah ketambahan males-malesan banget di perjalanan. Gunung Papandayan juga dingin banget! Preparationnya juga musti bener dan lengkap. Makanya, cocok banget buat pemula. Gak berat tapi gak bisa disepelekan..

Pemandangannya juga kece badai (kalau terang). Sayangnya, gunung Papandayan kini udah mahal banget. Tapi kalau jadi lebih baik sih harusnya gak papa ya?


2. Gunung Pancar

Setali tiga uang sama Gunung Munara, dan Gunung Batu Jonggol, Gunung Pancar bisa kamu jadikan andalan buat mendaki satu hari di akhir minggu untuk melepas penat. Memang, gunung Pancar gak seperti gunung Papandayan yang musti bawa peralatan lengkap, bahkan ada glamping segala. Tapi, cukup pas kalau buat pemula.

Kamu bisa foto-foto di sana. Pemandangannya nyata. Meskipun gak ada puncaknya, tapi bisa lah muter-muter nyari lapak buat bikin tenda juga udah capek. Gak nyampe sejam sih. Kalau masih kurang nampol ya datengin gunung Munara sama gunung Batu Jonggol aja.

***

Berlanjut ke JAWA TENGAH, kita tampilkan.... *tarakdungces*


3. Gunung Andong

Berbahagialah buat kamu yang tinggal di Jawa Tengah dan sekitarnya. Banyak banget gunung baik yang setinggi angkasa maupun yang cimit-cimit. Seperti yang gua bilang tadi, karena ini based on gunung yang udah gua daki, menurut gua, gunung yang cocok buat pemula di Jawa Tengah salah satunya adalah Gunung Andong.

Pada masanya, gunung ini populer banget. Sampe sekarang sih.

Meski ketinggiannya cetek, tapi gunung Andong cukup mampu bikin rematik kamu kumat. Kedinginan kena angin. Atau ketakutan karna tempat ngecamp sebelahan sama petilasan. Persis kayak di gunung Salak.

Biar gitu, bonusnya cuy, Golden SUNRISE! Maknyos!



4. Gunung Prau

Selain gunung Papandayan, Gunung Prau boleh dibilang andalan gua. Main ke sana udah kayak main ke mall. Berkali-kali (reus, padahal cuma dua kali). Tapi emang gunung Prau ini hampir mirip-mirip sama Papandayan. Saking ramenya, harganya udah naik drastis! Again, asal bikin lebih baik sih okay-okay aja, yekan? Denger-denger sih emang selama tiga bulan mulai dari bulan ini, gunung Prau tutup buat konservasi. Kalau bandel, dendanya mahal!

Lagian, jangan bandel-bandel lah. Kasian gunungnya juga. Kan sayang kalau dia gak cantik lagi.

Ngomong-ngomong soal cantik, gua salah satu pendaki apes yang kalau ke Prau cuma ketemu kabut sama ujan. Boro-boro sunrise dengan pemandangan tiga gunung legendaris yang ada di galeri para pendaki instagram, yang ada cuma rasa dingin dan senyap.

Tapi emang ini gunung cocok banget sih buat pemula. Dari segi medan, gak jauh dan tinggi amat, paling cuma 2-3 jam pendakian. Lapak juga luas buat nenda. Bukit teletubies ada dimana-mana. Pas lah.

***

Terakhir, kita punya JAWA TIMUR. Dan pilihan gua jatuh pada.....



5. Gunung Bromo

Yap.

Bukan mainstream.

Tapi praktis karena baru Gunung Bromo aja, gunung cimit-cimit Jawa Timur yang pernah gua daki. Sisanya ya cuma Gunung Raung, Gunung Semeru, sama Gunung Argopuro doang. Alasannya sepele, karena mencapai Jawa Timur itu perlu persiapan mateng.

You know, dari Jawa Barat, ke Jawa Timur gak cukup 3 hari 2 malem. Why? Karena hampir semua gunung Jawa Timur itu kece Badai! Sayang kalau sebentar doang. Belumm lagi misal naik kereta, bisa sehari semalem sendiri ke sana.

Gunung Bromo boleh dibilang gunung sejuta umat. Siapa aja bisa mampir ke sana. Siapapun bisa mendaki gunung Bromo. Banyak paketan perjalanan pula. Banyak event. Pemandangannya juga gak bisa diremehkan.

So, now you know why i recommend gunung ini buat pemula.

***

Yap, karena cuma lima, ya segitu doang yang bisa gua bagi ke kamu semuanya. Kali aja bisa mengobati kerinduanmu akan gunung. Atau bisa jadi pertimbangan kamu buat planning nanjak kemana tahun ini.

Kalau 5 gunung untuk pemula versi kamu, mana aja?

***

Ingat,

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

STAY ALIVE!

Happy mountaineering!


0



"Jangan bosan jadi orang baik."

Tumbuh besar di jaman kayak gini, kadang membuat gua sering banget mikirin hal-hal yang gak perlu dipikirin. Namanya juga Virgo, kemampuan dasarnya overthinking. Mohon dimaklumi.

Tapi, bener kan, kita lagi hidup di jaman dimana:

Baik disangka modus.
Perhatian disangka kepo.
Terluka dianggap baper.
Nyinyir dianggap (sebagai) perhatian. Biasanya soal kapan kawin.
Jomblo dianggap hina.
Berbeda dianggap tak sama. Yakali.
Toleransi dianggap gak sesuai agama.

Gak salah kalau lama-lama orang akan punya imun dengan sendirinya dengan hal-hal di atas. Kemudian menjadi individual. Kemudian menjadi skeptis. Gua?

Iya, gua yang virgo-overthinking ini becampur dengan golongan darah B yang pada dasarnya cuek, punya kombinasi mematikan sendiri menanggapinya. Gua udah sampai di level tertingginya skeptis, yaitu bomat, bodo amat. Bukan urusan gua.

Apalagi, gua udah cukup banyak terluka dengan menjadi baik. Terlalu baik kalau gak mau dibilang naif. Yah emang sih, baik sama naif beda tipis. Bila ku mati, kau juga mati~

Dan gua yakin, makin banyak orang yang makin lama makin skeptis dengan kehidupan ini.

Yha, gua pernah dengar bahwa rusaknya suatu negara, atau malah rusaknya suatu kehidupan ini bukan karena orang-orang jahatnya yang makin banyak, tapi karena lebih banyak orang-orang baik yang diam.

Tapi, kejadian menarik suatu malam beberapa bulan lalu membuat gua berpikir ulang, lagi dan lagi, benarkah orang-orang baik sudah lenyap?


18.30pm
Gua masih ngorek-ngorek kulit yang mengelupas di telapak tangan. Gak nyangka, hari ini gua bisa latihan di pusat kebugaran cukup intense juga. ((PUSAT KEBUGARAN)). Yang lebih gak nyangka lagi sih, ternyata di akhir minggu kayak gini, pusat kebugaran jadi lumayan sepi pengunjung. Jadi gua bisa bebas latian sampe encok.

18.50pm
Gua udah di kereta balik menuju Depok. 
Hari ini segalanya lancar, jalan kaki udah sewoles-wolesnya ke stasiun Sudirman, eh sampe stasiun kereta Depok langsung hadir di depan muka. Herannya lagi, gua dapet duduk. Lalu seperti biasa, gua mulai cek-cek notifikasi hape yang masuk.

Kerjaan, chat dari temen, chat anak-anak grup Jalan Pendaki. Yang gua gak habis pikir, ini anak-anak pada gak tidur apa ya siang malem chattingan mulu. Tapi ada satu kabar yang bikin gua agak fokus: 

"mohon bantuannya teman, ibu temen aku ada yang butuh donor darah B banyak. Kali aja ada yang mau bantu...."

Meskipun fokus, tapi gua langsung skip. Inget kan, gua skeptis?

19.00pm
Kereta melaju dari stasiun Cawang menuju Stasiun Duren Kalibata. 
Meskipun gua skeptis sama berita tadi, tapi gua ntah kenapa merasa pengen bantu banget, mengingat golongan darah gua juga B. Tapi tetep mager. Tapi akhirnya gua buka lagi chat tadi. 

"lokasinya di RS PON, deket Cawang BNN."

Cawang! Barusan kelewat!

19.15pm
Jauh uga ya ternyata jalan kaki dari Stasiun Cawang ke Rumah Sakit PON. Oiya, jangan kira PON ini kepanjangannya Pekan Olahraga Nasional ya. Karena dengan begonya gua mengira gitu. Eh ternyata singkatan dari Pusat Otak Nasional.

Anyway, gua memutuskan untuk bantu.

Cek punya cek di G-maps, cuma 1,5 km. Ternyata 1,5 km jauh uga. Belum lagi musti naik jembatan transjakarta yang panjangnya sealaihim gambreng. Lalu musti lewat kegelapan malam melawan arus mobil pula.

Tapi akhirnya sampai juga. Pelajarannya adalah, gua jadi tahu apa dan dimana itu RS PON.

19.45pm
"Eh, gua kayaknya kenal lo deh..." ucap gua saat ketemu orang yang meminta bantuan itu.

"Iya, lo anak Rusia kan? Jadi elo yang bikin-bikin Japen itu..." jawab orang itu. Yang ternyata temen gua beda jurusan waktu kuliah.

"Wahahaha iya, gak nyangka kalo elo yang minta donor. Anyway, nyokap lo kenapa?"
"Struk, Cen.... jadi gini....."

Kemudian diceritakanlah kenapa dan bagaimana. Hingga akhirnya ternyata darah gua udah gak dibutuhkan lagi karena di RS PON ini gak ada prosedur donor darah langsung. Harus melalui PMI pusat.

Tapi, gak nyangka banget yes, bisa ketemu teman lama.

Karena gua merasa gak ada kepentingan lagi, dan dia harus kembali menemani ibunya, gua langsung pamit aja.

"Thanks, Cen!"
"Sama-sama, bro!"

20.00pm
Gua masih asyik cek notif, cek instagram, chat sana sini sambil jalan kaki menuju stasiun Cawang lagi. Tiba-tiba,

"Mau kemana mas?" sapa seorang pemotor, lengkap dengan jas hujan plastik dan senyumnya yang mengembang.

"Eh iya mas, mau ke stasiun Cawang..." jawab gua sekenanya.

"Udah naik mas, ikut aja... Gratis!" lanjutnya.

"Eh gak usah mas gapapa, saya jalan aja..." ujar gua sedikit gak enak dan agak takut diculik. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, apa untungnya ya nyulik gua.

"Naik aja mas... lumayan jauh stasiun Cawang...." katanya lagi, masih dengan senyumannya yang tulus.

20.05pm
Stasiun Cawang.

"Di sini, mas?" tanya pemotor yang ngasi gua tumpangan tadi.

"Iya, di sini aja... makasih banyak mas. Makasih banget udah kasih saya tumpangan..." jawab gua sembari turun.

"Iya mas, sama-sama.... doain aja saya lancar mas, mari mas..." ujarnya sambil meneruskan perjalanan

"Pasti mas, saya doain rejekinya lancar mas..."

Pastinya dia gak denger, kan udah jalan.

Peristiwa ini bikin gua terhenyak. Gua happy sekaligus terharu. Anjir, hal sesepele ini bisa bikin pemikiran gua terbolak-balik. Awalnya gua coba bantu orang mumpung gua masih sanggup, mumpung deket, mumpung golongan darahnya cocok, meskipun akhirnya toh gua gak jadi bantu apa-apa.

Ujuk-ujuk, in the middle of nowhere. In the middle of Jakarta's jungle, datang orang tak dikenal ngasih bantuan ke gua. Secara tulus. Sepele tapi tulus. Pada akhirnya, gua malah ngerasa, kalau gua dapet bantuan malam ini. Bantuan secara fisik. Bantuan secara moral.

Di titik ini, peribahasa kau akan menuai apa yang kau tanam apalah apalah itu ada benernya juga. Ketika kita menanam kebaikan, justru kebaikan-kebaikan lain akan mendatangi kita. Ketika berbagi, bukannya berkurang, malah bertambah apa yang kita punya.

Sesepele itu.

Sesederhana itu.

So, akhirnya gua mikir lagi. Masih capek jadi orang baik? Masih males? Masih bosen?

Again,

Jangan bosan jadi orang baik. Jangan pernah.

Tetap baik hati ya guys,

Acen.
0



Okay.

Gua akan membuka cerita kali ini dengan polling kecil-kecilan. Siapa, diantara kamu, yang lagi membaca blog ini, belum pernah ngerasain sakit hati karena cinta?

Oke sip. Ada sejuta lima ratus tujuh puluh tiga orang yang bilang pernah. Sisanya pasti denial. Gua yakin itu. Semua orang pernah sakit hati karena cinta. Pernah patah hati. Entah itu ditolak pas nyatain cinta, pedekate sampe kiamat tapi gak diwaro juga, dianggap temen selamanya, dianggap abang/adek ketemu gede, diselingkuhin, atau bahkan diputusin cuma gara-gara:

"Jadi, kamu pilih aku apa gunung?"

Lalu kamu jawab,

"Ya gunung lah...."

Lalu hubungan kalian  berakhir begitu sadja.

Ah, tapi gak ada yang lebih sakit ketimbang saat dimana hubungan cinta kalian kayaknya lagi baik-baiknya, lagi anget-angetnya, eh diam-diam pasangan kalian lagi menjalin cinta dengan yang lain dan mendadak bilang:

"Kita putus ya? Aku udah gak ada rasa....."

Persis kayak cerita Bisma di Ganteng Ganteng Pendaki Galau Season 3. Pedih dan menyedihkan.

Tapi yah begitulah cinta, lagi-lagi gua mau bawa-bawa Ti Pat Kai, siluman babi yang kena karma penderitaan cinta. Katanya:

Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.

Paling menderita sih, when you choose to be alone aja selamanya, tiba-tiba campur tangan Tuhan yang entah gimana ceritanya, bisa memunculkan seseorang yang kayaknya tipe 'gua' banget. Begitu juga di hatinya, kayaknya kita itu tipe 'dia' banget. And it just, click, ketemuan, deal. Kayak slogannya salah satu toko online terbesar di Indonesia.

Kemudian, masa-masa cengek-remeh-receh tapi sweet banget kayak coklat direndem gula pasir sekilo datang. Masa-masa indah yang tiada duanya. Lalu tahapan berantem kecil lucu-lucuan. Lalu baikan lagi. Lalu berantem lagi. Lalu baikan lagi. Lalu kalian berdua sama-sama jenuh. Tapi satu diantara kalian tetap di jalan yang benar, berusaha mempertahankan masa-masa indah bersama hingga (kalau bisa) selamanya. Eh, satunya lagi, entah gimana caranya, justru kabur, memilih meningkatkan egonya hingga selingkuh dengan orang baru, yang dianggap lebih 'perfect' dari kamu.

Hingga akhirnya, ya, kalian putus. Dia milih bahagia dengan selingkuhannya. Lalu dia membuang kamu bak bangkai beracun. Bak upil di bawah meja yang menjijikan. Bak kerak tai di wc kantor yang bikin sebel tiap kali lagi ambil air wudu eh ketengok gak sengaja. 

Lalu, kamu, akan berjuang sendirian, menghadapi tahapan-tahapan orang baru putus cinta mau move on dan benci sampe ubun-ubun tapi gak bisa karena keingetan mulu sama semua dosa dan kejahatan mantan sekaligus kenangan indah bersamanya. Tahapan itu adalah:

1. Sedih dan Marah

Kecuali kamu adalah Gatot Brajamusti pas lagi jadi Azrax yang bisa ngangkat lampu taman buat mukulin musuh-musuhnya tanpa lampunya mati, mungkin kamu akan jauh-jauh dari perasaan sedih. Karena kamu cuma akan diliputi rasa marah. Akan segala kebohongannya. Akan segala kata-kata manisnya yang berubah dusta. Hingga merebak rasa marah.

Marah yang berlebihan. Rasanya sampe kamu bisa mencekik leher mantan kalo papasan di jalan, bisa gebukin dia sampe bernanah, atau bahkan nyamperin selingkuhannya dan ngelabrak dia sambil nyiram kuah bakso Afung yang panas dan segar. Duh, enak ya bakso afung. 

Tapi karena kamu orang baik yang lagi teraniaya. Kamu cuma bisa bayangin semua skenario drama itu di otak. Paling banter kamu mukul-mukul manja tembok di kamar. Mau mukul beneran kok ya sakit. Kadang timbul perasaan saking marahnya, kamu mau bunuh orang. Tapi lagi-lagi kamu ingat, kalo kamu gak kuat liat darah. Nonton film thriller aja, nutup mata dari awal sampe akhir. Njuk apa yang ditonton, cah?

Lalu kamu malah mengurung diri di kamar. Sedih gak ada obat. Mau makan perut bawaannya penuh mulu, mau mandi takut dingin, tiap tidur kebangun tengah malem keingetan dia, mau boker gak ada yang dikeluarin. Serba salah. Lalu kamu solat. Bukannya tenang malah ingat kalau kamu masih punya banyak utang, ingat motor belum diservis, ingat kemaren makan di warteg udah bayar apa belum. Kelar solat yang ada makin sedih.

Kamu bisa lagi ngadep laptop ngerjain laporan kuliah/kerja tiba-tiba meleleh air mata tanpa sadar. Ingat yang indah-indah bareng dia. Ingat janji-janji manisnya. Ingat kadang pas lagi ngadep laptop kayak gini dia meluk kamu dari belakang. Memori emang tai. Lalu akhirnya, laporan kelar kagak, yang ada malah nangis gegerungan sampe serak di bawah sarung. Karena iya, buat anak kosan, selimut yang fancy buat jadi cover nangis-nangisan kayak di film-film harganya mahal. 

Kesedihan diselimuti kemarahan ini, akan berlangsung sebentar. Atau lama. Secapenya kamu aja. Tiap orang beda-beda. 

2. Ngarep Kali Kedua

Raisa emang jagonya bikin dan nyanyiin lagu galau.

Saat kemarahan dan kesedihan sudah agak mereda, kamu coba-coba dengerin lagu Kali Kedua-nya Raisa. Lalu otak kamu sok ide. Membayangkan skenario dari a sampai z bahwa mantan kamu akan merengek minta balikan. Bahwa selingkuhan mantan kamu psycho lah, bibirnya sumbing lah, tititnya terbelah dua, atau ternyata di cuma mau mainin mantan kamu.

Lalu kamu mulai baik-baik sama mantan lagi. Mengingatkan dia soal masa-masa indah yang telah dilewati bersama. Menguak lagi perjuangan-perjuangan kamu dan dia pada masa saling caper buat ngedapetin hati masing-masing. Intense lagi sama dia. Pokoknya kamu meyakini, bahwa mantan kamu cuma salah jalan. Bahwa pilihannya saat ini bukan pilihan yang tepat. Dan kamu siap nunggu dia balik lagi ke kamu sampai kiamat.

Tapi dia bergeming tuh. Dia sudah pergi total dari kamu. Perasaan yang ada buat kamu cuma rasa kasihan. Perjuangan kamu dulu? Janji-janji manisnya? Masa-masa indah? Buat dia itu udah gak ada harganya. Gak ada maknanya. Kayak tai kucing di bawah pasir yang gak sengaja keinjek. Dia cuma akan bilang:

"Iyuwwwhhhh..."


3. Depresi

Kamu menyadari bahwa perjuangan buat merebut perhatiannya lagi udah sirna. Punah. Pupus. Dia udah lagi asik-asikan sama 'mainan baru' yang lebih seksi, lebih bohay, lebih dewasa, lebih kaya, lebih pintar, atau lebih segalanya dari kamu. 

Apalagi, andalan kamu cuma lebih ngertiin dia. Siap berjuang buat dia. Pengen bikin dia bahagia. Dengan apapun yang kamu mampu. Sudahlah, apapun yang kamu lakukan gak akan ada artinya lagi buat dia. Kamu bagai debu hitam di ujung kuku yang lentik. Bisa dibersihin atau dipotong kapanpun.

Lalu kamu berjuang sendirian lagi melawan semua kesedihan dan amarah yang sempat pudar. Kamu merasakan lagi perasaan-perasaan rendah diri, gak berguna, menyalahkan diri sendiri, gak bisa tidur, gak bisa makan, tiba-tiba apes mulu, hingga kemungkinan-kemungkinan melenyapkan diri sendiri datang. Dramanya, kamu gak sanggup lagi hidup di dunia ini.

Kamu sendirian. Kamu gak punya teman. Kamu sama sekali gak berharga.

Tiap liat silet bawaannya pengen gores-gores nadi. Tapi ya itu tadi, kan sakit, jadi kamu mikir dua kali. Tiap mau nyebrang kamu pengen aja gitu sengaja nabrakin diri ke mobil atau motor. Lalu kamu ingat pernah gak sengaja keserempet motor dan iPhone kamu hampir kelindes taksi. Lalu kamu mikir, aduh, iPhone gua harganya mahal. 

Akhirnya, kamu memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis kejiwaan aja. Diberi obat penenang. Diberi nasehat. Diberi ceramah. Hingga akhirnya kamu tenang sendiri. Meski beban perasaan yang sangat berat lagi ditanggung, kamu memutuskan untuk menyudahi semuanya.

Lagian, bayar dokter spesialis kejiwaan mahal banget gila!

4. Beneran Ikhlas

Perlahan kamu mulai mengganti namanya di kontak hape. Dari si sayang, si manja, cubet, cH4yyUnq, Bebs, Milikku, Istriqu, Papa, Mama, jadi nama aslinya. Atau jadi nama-nama yang melambangkan kejahatan. Kayak Anak Setan, 666, Mantan Asu, Babik, hingga Sampah.

Kamu tidak akan melupakan perjuanganmu. Manis janjinya. Maupun semua hal yang pernah kalian lewatin bersama. Tapi semua itu kamu simpan dalam hati kamu saja. Kamu menyadari bahwa semua itu gak layak kamu buang. Kamu bukan dia yang bisa semudah itu menghempaskan segalanya. Kamu orang baik yang tetap menghargai segalanya.

Kamu mulai berpikir karma.

Bahwa apa yang kamu terima saat ini. Semua kejahatan yang kamu terima dari mantanmu, semenyakitkan apapun itu, adalah karma dari perbuatan di masa lalu. Kamu mulai mengorek lagi kenangan, pernahkah kamu menyakiti seseorang sebelumnya? Pernahkah kamu membuat seseorang bagai upil keras di pojokan meja? Pernahkah?

Lalu hatimu melunak.

Kamu memaafkannya. Lalu kamu memaafkan dirimu sendiri.

Kamu mulai menjadikan kegagalan ini sebagai pelajaranmu. Kamu ikhlaskan mantanmu yang bangsat itu berbahagia dengan yang baru. Que sera sera, katamu. Everything happens for a reason. Kamu melangkah lagi. Meski masih sedikit-sedikit menengok ke belakang, tapi kamu udah gak lagi menginginkannya. Saking sayangnya kamu ke dia, kamu mendoakannya di setiap ibadahmu. Bukan lagi minta dia kembali padamu, tapi kamu berbisik:

"Tuhan, jika memang aku bukanlah kebahagiaannya, lapangkan hatiku untuk melihatnya bahagia dengan orang lain. Ikhlaskan hatiku...."

Lalu kamu menutup doamu dengan amin yang panjang.

5. Ketawa Receh

Hey! Lu itu cuma upil di bawah meja buat dia keleus! Get over with it!

Ya. Meski kamu, dengan kebaikan hatimu, akan selalu menanggapnya upil emas kesayanganmu, kamu akan mampu ketawa terbahak-bahak sambil maki-maki kayak gini:

"Ih, si anjing! Gua sampah banget dah sempet nangis-nangis kayak orang gila buat mantan kayak gituan doang! Ha Ha Ha!"

Gapapa. Wajar. 

Tahap ini adalah tahap yang paling membahagiakan. Kamu mungkin belum benar-benar moved on, tapi paling gak, kamu udah bisa ketawain dirimu sendiri, menghina kelakuan sampahmu sendiri, hingga kamu gak lagi mikirin dia. Perasaannya. Kejahatannya. 

Dia cuma seseorang yang pernah berpapasan di jalanmu.
Kamu cuma seseorang yang pernah gak sengaja ada di hidupnya.

Lalu suatu ketika kalian papasan di jalan, kamu akan menyadari kalau,

Di sini tak ada lagi kita.
Hanya ada kamu dan aku.


Kamu, ada tahapan yang mana?


ps:
Yakinlah, kalau jodoh juga gak akan kemana.

End.
0

Author

authorMy Trip My Adventure menggambarkan petualangan dan eksplorasi keindahan alam Indonesia.
Learn More →