Menu
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts


Beberapa minggu yang lalu.

Kayaknya dua mingguan. Apa semingguan ya? Duh lupa. Maklum aki-aki sok gaul, yes. Yah pokoknya udah agak lama dikit deh.

Gua agak dibikin kesal sama sebuah statement yang muncul dimana-mana, yang merasa bahwa mereka adalah pendaki atau pecinta alam or whatever they call themselves mengenai kebakaran yang terjadi di banyak gunung akhir-akhir ini.

Yes, you call it. Kebakaran di Surya Kencana, Gunung Gede yang bahkan ternyata disebabkan karena api unggun MASYARAKAT YANG BERZIARAH (sumber: KLIK). Kebakaran di Merbabu. Di Sindoro. Di Guntur. Dimanapun yang masih lingkup kegunungan.  Ya karena emang bahasan gua kan gunung dan sekitarnya, ntar kalau gua ikut-ikutan bahas #melawanasap #saveriau malah meleber kemana-mana. Meskipun gua juga mendukung gerakan tersebut dalam diam.

Statement kayak apa sih yang bikin gua kesal?

Yang kayak gini:

"Ini nih, gara-gara pendaki kekinian, anak gaul sok-sok naik gunung, yang ada bikin gunung kebakaran. Udah tau lagi musim kemarau!"

Again, apa sih salahnya pendaki kekinian?



Pendaki kekinian, mungkin diartikan sebagian orang sebagai:

1. Mereka yang baru mulai mendaki saat-saat ini. 
2. Atau mungkin anak-anak gaul yang latah sama kegiatan mendaki. 
3. Atau para hipsters yang tiba-tiba mulai kegiatan mendakinya. 
4. Atau orang yang udah kepengen banget naik gunung dari dulu banget, tapi gak bisa, eh kebetulan baru bisa naik sekarang karena banyak alasan, eh pas baru bisa naik sekarang, pas banget kegiatan naik gunung lagi ngehype.

Atau apalah-apalah. Kalau kamu jenis yang mana?

Nah, apa bedanya dengan pendaki kelamaan?

Tentu aja, orang yang udah lama banget mendaki, berkecimpung di dunia pendakian, kebanyakan adalah aktivis mapala dan teman-temannya. Oh oh, sama orang yang merasa bahwa dia sudah sangat berkontribusi sama alam, jadi dia berhak disebut pendaki kelamaan yang tidak kekinian.

Gua ada dimana?

Jujur aja, gua adalah tipe nomer 4, yaitu orang yang udah kepengen banget naik gunung dari dulu banget, tapi gak bisa karena nyokap bokap gua gak ijinin, masuk mapala juga gak boleh, eh kebetulan baru bisa naik gunung pas mahasiswa, pas banget juga kegiatan naik gunung tiba-tiba jadi ngehype. Kalau boleh dirunut lagi, umur gua naik gunung udah lumayan lama. Mungkin bisa dibilang before it was really cool like nowadays. Gua mulai dari 2011. Yah, empat tahun belum waktu yang cukup lama tapi gak bisa dibilang sebentar juga.

Tapi karena gua anaknya mengikuti perkembangan jaman, seperti gonta ganti gadget, pake baju anak-anak distro, aktivis sosial media, jadi anak hipsters instagram, punya celana gemes sampe celana jogger, dan kalau naik gunung bawa bajunya selangit kayak mau fashion show, membuat gua boleh dibilang kekinian.

So, gua berada di posisi pendaki agak lama yang cukup kekinian.



Kembali ke persoalan Tentang Pendaki Kekinian.

Apa salahnya pendaki kekinian?

1. Kurangnya informasi dan malesnya cari informasi soal kegiatan mendaki gunung membuat kebanyakan pendaki kekinian naik gunung pake open trip. Hm, tapi gua juga sering pake open trip, karena gak ada waktu buat susun itinerary lagi. You know, kerjaan.

2. Kurangnya pengetahuan tentang kegiatan mendaki gunung dan asal aja naik gunung sehingga banyak yang meninggal. Eh tapi kadang yang meninggal juga bukan pendaki kekinian. Eh tapi kita juga gak tau kan dia itu pendaki kekinian apa bukan.

3. Karena mereka gahul dan pengen pamer di socmed lalu membuat banyak pendaki kekinian lain jadi pada pengen ikutan manjat gunung terus gunungnya jadi rame. Alah, kayak kita naik gunung gak pengen foto aja. Naluriah, Manusiawi.

4. Karena mereka buang sampah sembarangan. Yakin? Pendaki kekinian doang yang buang sampah sembarangan? Yang ngotorin gunung? Yakin banget? Ada buktinya? 

5. Karena pendaki kekinian yang bikin api unggun dan bakar-bakar gunung.

Nah, ini yang bikin gua agak naik pitam. Okay, as for info, gua punya banyak temen anggota mapala yang mengaku sering merangsek masuk gunung, mendaki gunung, pada saat gunung lagi DITUTUP. Mantan anggota mapala juga sering naik gunung secara ilegal berlandaskan ilmu survivor mereka dan karena 'sudah sering' melakukannya. Begitu juga dengan pendaki kelamaan non-mapala yang merasa jam terbangnya cukup tinggi untuk break the rules peraturan-peraturan tertentu gunung yang bahkan udah jadi Taman Nasional.

Artinya, benarkah, apa yang dituduhkan 'mereka' kepada pendaki kekinian?

Gua, sebagai pendaki agak lama yang kekinian aja, begitu tau, Gunung Gede Pangrango ditutupnya diperpanjang nih karena gak ada air dan lagi kemarau, langsung mingkem. Sekangen-kangennya gua sama itu gunung kembar, mau gak mau gua tahan demi kemashlahatan umat bersama.

Dan, gua rasa, banyak pendaki kekinian atau pendaki kelamaan, atau yang berjiwa mapala, dan berjiwa pecinta alam bakal sama mingkemnya kayak gua. Lalu memilih gunung yang aman dan halal untuk didaki. Seperti istri, misalnya. Ehgimana?



Jadi gunung kebakaran salahnya siapa?

Salah temen-temen gua? Salah pendaki kekinian? Salah pendaki kelamaan? Salah mapala? 

Bukan. Salah Jokowi.

Pokoknya dikit-dikit salahin Jokowi aja. 

Yakali. Wekaweka.

Daripada main salah-salahan, main cari kambing hitam sana sini, mendingan nyari sate kambing kan (katanya) enak. Daripada begitu bagaimana kalau kita bersatu padu menyalahkan keparat-keparat oknum pembakar gunung dan lain sebagainya itu sebagai pendaki bangsat?

Ya, baiknya kita panggil mereka pendaki bangsat. Why?

Karena, menyalahkan pendaki kekinian yang bungkam ketika tau gunung lagi ditutup itu gak bener, menyalahkan mapala yang sering nanjak jalur ilegal juga gak baik. Jadi, sudah barang tentu... ((BARANG TENTU)), jadi, udah jelas kalau ini kelakuannya personal yang emang kayak bangsat aja. 

Udah naik gunungnya ilegal, bikin api unggun, ngerokok, lalu apinya gak dimatiin, lalu kebakaran. Kita gak tau pasti dia itu siapa darimana berlabel apa, yang kita tau dia itu pendaki yang punya karakter bangsat. 

Kalau emang dari sononya bangsat ya bangsat aja kan. Gak perlu jadi pendaki kekinian atau jadi mapala buat berkelakuan bangsat, bukan?

So, mari kita sama-sama menuduh banyak pelaku vandalisme, penyebab gunung kebakaran, dan lain-lainnya ke para pendaki bangsat ini. Kalau mereka gak terima dikatain bangsat, pasti mereka akan mengubah kelakuan mereka dan menjadi pendaki baik-baik. Karena merekalah yang harus kita bina(sakan), sadarkan, dan ajari caranya mendaki gunung dann menjaga alam yang benar.

Semoga para pendaki bangsat ini segera sadar dan tidak berkelakuan bangsat lagi. Ada amin?



Buat kamu yang suka nuduh-nuduh, kalau kamu merasa jam terbang mendakimu udah tinggi, ilmu mapalamu udah selangit, naik gunungmu udah kemana-mana, apakah lantas kamu menjadi dewa gunung yang bisa memaki, menuduh, dan menyinyiri orang lain sebegitunya?

Apakah gak sebaiknya justru kamu ajari mereka, yang kamu bilang pendaki kekinian, cara naik gunung yang benar?

Itu aja sik.

Maaf kalau agak serius dan tendensius.

Lagi badmood. 

Tengs.


Peace, love, stay kekinian and gaul.

Acen.
0




Hae.

Nungguin tulisan terbaru edisi Gunung Pangrango? Tunggu dulu, dari kemarin gue pengen banget nulis tentang hal-hal berbau zodiak yang dikombinasikan dengan pendaki pada umumnya.

APA? ZODIAK? KAN GAK BOLEH PERCAYA ZODIAK!!

Yaudah sik sepele. 

I believe that masalah zodiak ini rasanya gurih-gurih nyoi, boleh-boleh-gak-boleh tapi seneng aja kan bacanya?

Kalau bagus ya biasanya diaminin, kayak gini -->> "ih iya! gue banget tuh!"
Kalau busuk biasanya juga pada denial, -->> "ah, gue mah gak gitu keleussss!!" 
Tapi jujur deh, justu yang busuk-busuk yang paling bener dan dalam hati teriak kenceng banget, "AH SEMPAK, BENER BANGET!"

Nah, jenis-jenis pendaki berdasarkan zodiak ini gue buat menurut agama dan kepercayaan masing-masing  pengamatan dari temen-temen gue sesama pendaki yang tentunya pernah manjat bareng gue dan juga olah data dari internet.

Jadi sifatnya antara mengada-ada campur ngawang-ngawang. Gak usah dianggep serius.

Okay, langsung saja, ini dia 12 Jenis Pendaki Berdasarkan Zodiak:

PENDAKI AQUARIUS (20 Januari-18 Februari)
Para Pendaki Aquarius ini punya sifat dasar impulsif. Suka tiba-tiba melakukan apa yang dia mau tanpa mikirin nantinya gimana. Jadi, kalau tiba-tiba mau naik gunung, ya dia akan jalan pada saat itu juga. Sifat ini didukung sama wataknya yang cuek, selaw bingit, dan aneh. Tambah-tambah kalau ini Pendaki Aquarius punya golongan darah AB yang emang sifat dasarnya aneh. Hahaha.

Biasanya, pendaki jenis ini bakalan gak peduli meskipun tiba-tiba ada pocong lewat depan mukanya. Tapi, doi itu protek banget sama temen-temennya. Dia bisa jadi defender yang paling diandalkan di rombongan. Taro dia di belakang jadi sweeper dan semua aman serta tenang.

PENDAKI PISCES (19 Februari-20 Maret)
Pendaki Pisces punya sifat dasar yang paling menonjol, yaitu, DRAMA. Yep, ada apa-apa dikit heboh. Mungkin diem, tapi diemnya aja bisa bikin heboh. Misalnya dia ngeliat Ranu Kumbolo yang begitu indahnya, bisa tiba-tiba dia nangis sesenggukan lalu membuat puisi dan dibacain depan rombongannya. Asyiknya, kalau udah kenal, si Pendaki Pisces ini bisa jadi orang paling bawel yang kadang resek tapi pendakian jadi gak sepi, meskipun sifat aslinya agak tertutup. 

Oiya, jangan heran kalau tiba-tiba doi punya pandangan mata kosong atau sering daydreaming, doi bukan kesurupan kok, cuma lagi berimajinasi.

PENDAKI ARIES (21 Maret-19 April)
Sifat aslinya Pendaki Aries ini jahil banget. Lumayan jadi anak yang bisa menghidupkan suasana. Hobiya bisa jadi ngecengin orang. Tapi, naro dia sebagai leader juga oke, karena, selain gak takut sama apa pun, doi juga tipikal pemimpin yang baik dan memang pintar. Tentunya, doi bisa nyari jalan dengan sangat baik, bisa bagi-bagi rombongan dengan tepat, dan paling gak, pengetahuannya bisa sangat membantu.

PENDAKI TAURUS (20 April-20 Mei)
Kita bisa menyebutnya sebagai seorang pendaki yang.... pemalas. YUP. MALES. Tapi sifat malesnya ini diiringi dengan sifatnya yang persistent. Jadi, meskipun males, tapi kalau doi udah memutuskan untuk bakal manjat peduli setan sampai puncak, doi bakal sampai puncak. Percayalah. Didukung dengan sifat keras-kepalanya yang luar biasa juga tentunya. Dan, kesabarannya ini juga mendukung persistensinya. Bagusnya, hal ini yang secara gak langsung akan memotivasi orang-orang di rombongan yang kayaknya udah mau nyerah tapi masih mau berusaha.

PENDAKI GEMINI (21 Mei-20 Juni)
Para Pendaki di bawah naungan rasi bintang ini punya energi yang melimpah. Bisa jadi disaat kita semua lagi drop kelelahan, doi masih pecicilan ntah kemana dan jadi penghibur rombongan. Sifatnya yang unpredictable dan curiosity-nya yang tinggi juga kadang-kadang bisa bikin kita shock sama apa yang dia lakukan. Bisa jadi sangat membantu, bisa jadi sangat membahayakan diri sendiri. Selain gampang bergaul dan beradaptasi sama lingkungan sekitar, Pendaki Gemini juga pandai memanfaatkan momen untuk narsis-narsisan. Yoi, mereka memang ngerasa cakep bingit, dan bahayanya... emang beneran cakep. Bhay.

PENDAKI CANCER (21 Juni-22 Juli)
Cancer punya sifat bagus yang sangat membantu teman-temannya dalam rombongan pendakian, dia bakalan jadi orang yang paling setia nungguin temen-temennya meskipun jalannya lelet, suka ngeluh, maupun suka curcol. Tapi pendaki cancer paling cuma akan jadi pendengar setia curhatan kamu. Doi agak susah terbuka dan gak bisa maksain terbuka meskipun kamu maksa-maksa. Agak susah kalau mau modusin doi buat jadi gebetan kamu. Oiya, musti hati-hati kalau becanda sama doi, anaknya gampang sakit hati, mau kamu dijorokin ke jurang?

Lalu.... gue gak tau musti ngomong apalagi tentang Pendaki ini, kan tadi dah dibilang, doi tertutup.

PENDAKI LEO (23 Juli-22 Agustus)
Satu lagi satu jenis pendaki menurut zodiak yang bisa jadi leader di tim rombongan pendakian kamu, yaitu Pendaki Leo. Yoi, sebagai natural born leader, sifat berani yang tertanam di dalam dirinya ini lah yang pantas kita andalkan. Mungkin doi agak gak percaya diri sama kemampuannya memimpin rombongan, tapi, pelan-pelan semua akan sadar kalau doi punya rasa tanggung jawab yang tinggi, punya rasa ingin melindungi temen-temen rombongannya, dan juga loyal. Dan.. narsis juga. Satuin aja sama Pendaki Gemini dan Libra, kelar deh mereka foto-foto doang.

PENDAKI VIRGO (23 Agustus-22 September)
Suka ngatur, perfeksionis, cerdas, planner luar biasa, dan juga observer, adalah sifat dan ciri dasar dari Pendaki Virgo. Kalau Virgo dijadiin pemimpin dalam rombongan, waktu pendakian, jam makan, waktu istirahat, dan keselamatan rombongan bisa dibilang akan dijamin sesuai dengan rencana awal. Kalau pun kepleset dikit, gak akan jauh-jauh banget. Sangat bisa diandakan. Tapi ya gitu, sifat perfeksionisnya bakalan lumayan menghambat kalau misalnya ada hal yang tiba-tiba gak sesuai. Nah, sifat-sifat tadi kalau disatuin jadinya = rempong. Barang bawaan banyak, takut ini, kalau kalau begitu, macem-macem lah.

Jago mikir, menganalisa, dan mengobservasi sekitar bakal bikin rombongannya merasa lebih aman dan bisa ngandelin pendaki dalam naungan bintang Virgo ini. Tapi, musti ati-ati banget, sekali doi ill-feel, udah deh, kamu bakalan di black list dari next pendakian bareng dia.

FYI: gue, adalah contoh nyata Pendaki Virgo. :p

PENDAKI LIBRA (23 September-22 Oktober)
Mau minta jajanan selama pendakian? Minta aja sama pendaki Libra ini. Doi super duper gak pelit, boros, dan.. emang kebanyakan kaya raya. Kalau boleh bawa logistik se-alfamart, mungkin doi bakal bawa. Tapi para tetua pendaki musti banget jagain doi jangan sampe jalan sendiri, pelupa-nya itu loh. Ampun!

Bercanda sama pendaki Libra juga asik, selain santai dan gak gampang tersinggung, rata-rata pendaki jenis ini seneng banget bercanda. Mau narsis bareng? Foto-foto pake tongsis sepanjang pendakian? Ajak bareng lah si Libra, Leo, dan Gemini. Langsung capcuss. Oiya, pendaki Libra juga doyan dandan!

PENDAKI SCORPIO (23 Oktober-21 November)
Jangan sekali-kali bikin Pendaki Scorpio ini marah. Bahaya. Namanya juga kalajengking yekan, selain emosional, mulutnya juga berbisa. Pokoknya jangan bikin doi marah. Bisa jadi kamu digantung di puncak gunung. Tapi, kontradiksinya Pendaki Scorpio adalah doi ini humoris. Yang bakalan bikin banyak ketawa di gunung ya doi. Suseh ye?

Tapi Pendaki Scorpio juga loyal, akan nungguin dan jagain temen-temennya yang udah kecapean, bahkan, rela mati juga buat nolongin temen (deketnya).

PENDAKI SAGITARIUS (22 November-21 Desember)
Independen, extrovert, tukang kepo, tapi empati dan super baik hati, ya itulah Pendaki Sagitarius. Doi bisa sangat menempatkan dirinya di posisi orang lain dan membuat hatinya sangat lembut untuk menghadapi orang sekeras apa pun. Butuh orang buat memotivasi pendaki yang udah kepayahan? Lari ke dia. Butuh orang buat ngademin otaknya leader yang lagi panas? Sodorin dia. Butuh ngademin rombongan yang lagi emosi, serahkan padaNya. Muahaha.

Tapi, pendaki Sagitarius ini 11-12 juga sama pendaki Pisces, sama-sama drama, dan even worst, drama-lebay. Bisa aja doi beneran nangis meraung-raung padahal cuma liat temennya berdarah-darah dikit gegara kegores batu doang. Overall, doi bisa diandalkan, asik, dan lembut hatinya.

PENDAKI CAPRICORN (22 Desember-19 Januari)
Ambisius dan skeptis. Mau punya motivator buat mencapai puncak atau pengen pulang sesegera mungkin waktu di pendakian? Deket-deket aja sama Pendaki dalam naungan zodiak ini. Sifat ambisiusnya bakalan membius kamu dan menekan tombol trigger dalam dirimu. Sifat ambisius ini juga didukung sama sifat keras kepalanya. 

Sifat ini juga cocok menjadikan pendaki Capricorn buat pemimpin rombongan. Atau sweeper juga cocok. Meskipun di belakang, doi bakalan ngompor-ngomporin rombongan biar tetap semangat menggapai puncak yang diidam-idamkannya.


Jadi, pendaki (berzodiak) jenis manakah kamu?

***
Ingat, zodiak itu sifatnya saling mempengaruhi, jadi misalnya dirimu berzodiak Virgo yang masih deket-deket Leo, bisa jadi sifatmu adalah Virgo keLeo-Leoan. Begitu juga untuk Virgo yang deket-deket Libra. Tapi kalau yang jauh, berarti sifatmu adalah Virgo Tulen. 

Ribet, yeh?

Masih merasa kurang pas antara sifat aslimu sama zodiaknya??

Coba kamu taburi garam sedikit, goreng, lalu tiriskan. Selamat menikmati!
0



Kenapa naik gunung?

Kalau ditanya kayak gitu, jawabannya bakal banyak banget!

1001 satu alasan. 1001 jawaban.

"Cinta di tolak, keril diangkat"- kayaknya pernah baca di kaskus, menurut gue ini adalah the best answer.

"PDKT gagal, mari bangun tenda dan makan bekal"- ini asli karang-karangannya gue.

"Karena hobby"- pernah denger, sering malah, kayaknya banyak orang yang ngomong, adalah the common answer.

"Karena ngangenin" - adalah the sweet banget answer.

"Because It's There" - kata Pak George Mallory, pas ditanya Kenapa gunung sik? Kenapa?

Masih banyak lagi. Gue yakin.

Naik gunung itu nyari susah. Loh.
Naik gunung  jauh dari kata nyaman.
Tapi, naik gunung lebih irit biaya. Engg, gue cabut lagi kata-kata gue boleh? *inget harga peralatannya*

Naik gunung perlu persiapan dan perencanaan yang matang. *tapi biasanya melenceng dari jadwal*

Tapi, naik gunung itu memacu adrenalin dan memacu foto-foto.

Naik gunung.

Punya nilai-nilai yang gue gak paham sampe sekarang kenapa ini gue anggap bernilai. Keluar dari zona nyaman, nikmatin alam bebas yang gak biasa gue nikmati di kota. Gue mungkin, atau nyata-nyata udah banyak kehilangan gara-gara naik gunung: uang, kewarasan, waktu, tenaga, berat badan, cinta. #eaaa

Tapi, apa yang gue dapatkan dari naik gunung kemungkinan besar gak bisa diukur dari semua yang barusan gue sebutin diatas, atau bahkan yang kelewat gak gue sebut. Kebanyakan soalnya.

Rasanya gue udah dapet lebih dari uang: temen, iya, temen. 

Rata-rata pendaki atau orang-orang yang gue temuin di Gunung itu ramah-ramah dan baik hati. Meskipun di kota gak jarang juga nemuin yang kayak gitu. Tapi di gunung itu beda. BEDA. Ya soalnya, mungkin, kami ngerasa senasib seperjuangan. 

Punya satu tujuan. Pulang. 

Dan Puncak. 

Gak munafik kok, rata-rata yang manjat gunung pasti pengen sampe puncak, tergantung kuat apa gak mental dan fisiknya. 

Saling ngasih motivasi, saling bagi-bagi makanan, kentut-kentutan, ceng-cengan, kayak ketemu sahabat yang udah lamaaaaaaa banget, padahal mah baru kenal. Pulang dari manjat, biasanya bakal ngerasa jauh lebih bersyukur karena udah dapet temen baru, gebetan baru, relasi baru, pengalaman baru, foto-foto baru, dan semuanya itu priceless!

Belum lagi napsu makan nambah, memori nambah, foto-foto nambah, cerita-cerita nambah, segala yang buat nyirik-nyirikin temen jadi nambah. Iya, elah, gue mah bukan aktivis ini itu yang bilang kalo naik gunung bukan cuma tentang foto yang bagus, bukan cuma ina itu bla bla bla, ya yang bisa gue share ke temen-temen gue ya cuma itu, mau apa lagi?

Ya gue juga bakalan sirik kok kalo ada yang nyirik-nyirikin. Wajar ah, manusiawi.

Kenapa naik gunung?

Buat gue, karena gue suka. Itu aja.

Kadang, kita gak perlu alasan yang rasional buat suka sama sesuatu kan?

-------------------------------------------

Dengan perubahan sana-sini dari teks asli yang gue bikin pas masih alay di sini.
0

Author

authorMy Trip My Adventure menggambarkan petualangan dan eksplorasi keindahan alam Indonesia.
Learn More →